Debu Hitam di Situs Suci: Ketika Stockpile Batubara Merusak Warisan Muaro Jambi

Candi Teluk dalam Kepungan Stockpile Batu Bara (Sumber : Google Maps)

DRADIO.ID – Proses sertifikasi Candi Muaro Jambi sebagai warisan dunia UNESCO terhambat oleh aktivitas stockpile batu bara di sekitar kawasan cagar budaya tersebut. Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menyoroti masalah ini sebagai hambatan utama yang mudah diatasi jika ada kemauan.

Debu batubara menyebar saat musim kering, mencemari udara, air minum, dan permukaan rumah hingga peralatan masak di Desa Muara Jambi. Masyarakat mengalami infeksi saluran pernapasan akut, batuk kronis, dan polusi yang menghambat pariwisata karena citra kawasan tercemar.

Stockpile batu bara di zona inti dan penyangga KCBN Candi Muaro Jambi, seperti di Desa Muara Jambi dan Tebat Patah, menyebabkan erosi pada struktur candi dan menapo akibat air hujan bercampur limbah batubara.

Perusahaan seperti PT Rakindo Unitrust Mandiri dan PT Tegas Guna Mandiri beroperasi di area tersebut sejak 2008, dengan izin hingga 2038, membuat batu bata candi keropos dan rapuh. DLH Jambi sedang uji sampel limbah untuk sanksi, tapi proses terhambat kerusakan alat. 

Candi Muaro Jambi, situs Buddha terbesar di Asia Tenggara seluas 3.981 hektar sejak abad ke-6, gagal nominasi UNESCO 2009 karena stockpile dan 12 perusahaan serupa. Gubernur Al Haris sebut pemindahan stockpile mudah jika ada perintah Dirjen Kebudayaan, sementara Jokowi dan Luhut janji pindah dalam 3 bulan pada 2022 tapi belum terealisasi. Pemugaran Candi Teluk 1 selesai 2024, tapi 8 situs lain masih terancam. 

Aktivitas stockpile melanggar UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, khususnya Pasal 66 dan 67 yang melarang merusak atau memindahkan cagar budaya. Pasal 81 dan 112 dilarang mengubah fungsi ruang serta memanfaatkan cagar budaya secara komersial tanpa izin khusus, sementara stockpile menempati zona inti di Desa Muara Jambi dan Tebat Patah. Operasi ini bertentangan dengan zonasi KCBN yang melindungi situs Buddha abad ke-7 hingga 14 dari gangguan industri.

Pengusaha seperti Tatik Murdaya, Aguan, dan Fadli Zon siap sumbang pengembangan, termasuk wisata dengan kapal dan motor listrik. Ivan Wirata tekankan pemberdayaan 7 desa penyangga via lapangan kerja untuk tarik wisatawan. Sertifikasi 2025 diharapkan maju setelah relokasi stockpile dan peningkatan ekonomi lokal.(WA)