DRADIO.ID – Setelah melalui rangkaian riset selama beberapa tahun, para ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap penyebab munculnya efek samping langka berupa pembekuan darah pada sebagian kecil penerima vaksin COVID-19 berbasis adenovirus. Temuan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan vaksin generasi berikutnya yang lebih aman.
Penelitian tersebut menyoroti vaksin yang dikembangkan menggunakan platform vektor adenovirus, seperti produksi AstraZeneca dan Johnson & Johnson. Teknologi ini berbeda dari vaksin mRNA yang digunakan oleh Pfizer dan Moderna.
Pada vaksin berbasis adenovirus, virus yang telah dimodifikasi dan dilemahkan dimanfaatkan sebagai “kendaraan” untuk membawa informasi genetik ke dalam tubuh guna memicu respons kekebalan. Platform ini sebenarnya telah lama dikembangkan dan sebelumnya diuji untuk penyakit lain, sehingga memungkinkan proses pembuatan vaksin berlangsung cepat saat pandemi.
Efek Samping Sangat Jarang: VITT
Dalam penggunaan massal, ditemukan kasus sangat jarang yang dikenal sebagai vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT), yakni kondisi pembekuan darah yang disertai penurunan jumlah trombosit secara drastis. Meski serius, kasus ini hanya terjadi pada sebagian kecil populasi penerima vaksin.
Peneliti menemukan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh autoantibodi yang menyerang protein tubuh bernama platelet factor 4 (PF4), sehingga memicu reaksi pembekuan darah yang tidak normal.
Riset Internasional Ungkap Faktor Genetik
Tim ilmuwan internasional yang dipimpin peneliti dari Flinders University mengidentifikasi adanya kecenderungan genetik tertentu yang membuat sebagian orang lebih rentan membentuk autoantibodi terhadap PF4.
Studi lanjutan bahkan menunjukkan bahwa respons imun serupa dapat muncul setelah seseorang terpapar adenovirus alami penyebab flu biasa. Artinya, reaksi tersebut tidak sepenuhnya unik akibat vaksin, melainkan berkaitan dengan karakter biologis adenovirus itu sendiri.
Mekanisme Molekuler Kini Dipahami
Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada Februari 2026, para ilmuwan menggunakan analisis molekuler mendalam untuk menjelaskan mekanisme detailnya.
Mereka menemukan bahwa pada individu tertentu, sistem imun keliru mengenali protein adenovirus sebagai PF4 milik tubuh. Kesalahan identifikasi ini memicu pembentukan antibodi yang kemudian mengaktifkan proses pembekuan darah berbahaya.
Jalan Menuju Vaksin yang Lebih Aman
Para peneliti menilai protein tertentu pada adenovirus dapat dimodifikasi atau dihilangkan dalam desain vaksin mendatang. Pendekatan ini diyakini mampu mencegah efek samping langka tanpa mengurangi efektivitas perlindungan terhadap penyakit.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa pengawasan ilmiah dan regulasi berjalan secara dinamis. Ketika efek samping terdeteksi, strategi penggunaan vaksin segera disesuaikan sembari penelitian terus dilakukan hingga akar masalah dapat dipahami.
Selain meningkatkan keamanan vaksin berbasis adenovirus di masa depan, hasil riset ini turut memperkaya pemahaman dunia medis mengenai cara kerja sistem imun manusia—terutama bagaimana tubuh merespons teknologi vaksin modern.(ADR)
