Berita  

GPT-5 Diklaim Setara Tim Doktor, Pakar Ingatkan Tantangan dan Risiko

DRADIO.ID – Jambi , 12 Agustus 2025 OpenAI resmi meluncurkan ChatGPT versi terbaru, GPT-5, yang digadang-gadang sebagai model AI paling canggih dan tercepat saat ini. CEO OpenAI, Sam Altman, bahkan mempromosikannya sebagai teknologi yang setara dengan memiliki “tim ahli setingkat Ph.D. di saku Anda”.

GPT-5 disebut membawa peningkatan signifikan dibanding pendahulunya, mulai dari kemampuan pengodean, penulisan, hingga penyelesaian tugas kompleks.

“ChatGPT-5 menawarkan lompatan besar dari versi 4.0, bahkan terasa seperti langkah nyata menuju AGI (Artificial General Intelligence). Jika GPT-3 ibarat siswa SMA dan GPT-4 seperti mahasiswa cerdas, maka GPT-5 untuk pertama kalinya benar-benar terasa seperti pakar setingkat Ph.D.,” ujar Sam Altman.

Salah satu fitur andalannya adalah kemampuan membuat perangkat lunak instan hanya dengan perintah teks, yang disebut Altman sebagai “kekuatan super” bagi pengguna. Menurutnya, teknologi ini akan membuka era di mana satu individu dapat melakukan lebih banyak hal daripada siapa pun dalam sejarah.

Namun, sejumlah pakar memberi catatan kritis. Profesor Carissa Véliz dari Institute for Ethics in AI menilai klaim tersebut mungkin terlalu dibesar-besarkan. “Meski mengesankan, sistem ini belum memberikan manfaat nyata secara luas dan pada dasarnya hanya meniru kemampuan penalaran manusia,” jelasnya.

Gaia Marcus, Direktur Ada Lovelace Institute, menambahkan bahwa perkembangan pesat AI seperti GPT-5 memperlebar jarak antara kecanggihan teknologi dan kemampuan regulasi. “Semakin mumpuni model-model ini, semakin mendesak pula kebutuhan regulasi yang komprehensif,” tegasnya.

Koresponden AI BBC, Marc Cieslak, yang berkesempatan menguji GPT-5 sebelum rilis publik, mengatakan pengalamannya masih serupa dengan chatbot sebelumnya—pengguna mengetik perintah atau pertanyaan, lalu mendapatkan jawaban. Bedanya, GPT-5 kini memiliki model penalaran yang membuatnya mampu memecahkan masalah lebih mendalam. Meski demikian, ia menilai perubahan ini lebih sebagai evolusi ketimbang revolusi.

Kekhawatiran juga datang dari industri kreatif terkait penggunaan karya oleh AI. Grant Farhall, Chief Product Officer Getty Images, menekankan perlunya transparansi dalam proses pelatihan model AI dan memastikan kreator mendapatkan kompensasi yang layak. “Saat konten AI semakin meyakinkan, kita harus memastikan perlindungan bagi orang-orang dan kreativitas di baliknya,” ujarnya.

Dengan segala kecanggihan dan kontroversinya, GPT-5 menjadi tonggak penting dalam perkembangan AI—namun juga membawa tantangan besar dalam etika, perlindungan hak cipta, dan regulasi teknologi masa depan.(ADR)