DRADIO.ID — Jambi , 14 Agustus 2025 Gerakan Pramuka yang resmi berdiri di Indonesia pada 14 Agustus 1961 memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Jauh sebelum resmi bernama Pramuka, organisasi kepanduan di Tanah Air telah menjadi wadah pembinaan generasi muda yang ikut berjuang di masa penjajahan hingga mempertahankan kemerdekaan.
Awal mula gerakan ini dapat ditelusuri sejak tahun 1912, ketika organisasi kepanduan pertama, Javaansche Padvinders Organisatie (JPO), berdiri di Batavia. Pada masa itu, kepanduan menjadi sarana bagi pemuda untuk melatih kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat kebangsaan, meskipun berada di bawah tekanan kolonial Belanda.
Memasuki era 1920-an dan 1930-an, organisasi kepanduan pribumi berkembang pesat. Beberapa di antaranya, seperti Natipij (Nationale Padvinderij) dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), secara terbuka menanamkan nilai nasionalisme kepada anggotanya. Hal ini membuat pemerintah kolonial merasa khawatir karena kepanduan dianggap melahirkan kader-kader pejuang kemerdekaan.
Masa pendudukan Jepang membawa tantangan baru. Kepanduan dilarang dan diganti dengan organisasi pemuda bentukan Jepang. Namun, semangat dan nilai yang sudah tertanam tidak pudar. Banyak anggota kepanduan tetap berlatih secara diam-diam, menyamarkan kegiatan mereka dengan sebutan lain.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, para anggota kepanduan segera bergabung dalam barisan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka menjadi kurir, penghubung, pengintai, bahkan ikut terjun langsung di medan pertempuran. Keahlian yang mereka miliki, seperti membaca peta, survival, dan tali-temali, sangat membantu dalam operasi gerilya melawan Belanda yang berusaha kembali berkuasa.
Salah satu peristiwa bersejarah adalah peran pemuda-pemuda kepanduan dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Mereka membantu menyampaikan pesan rahasia, memindahkan logistik, dan mengevakuasi korban di tengah pertempuran sengit. Peran ini menjadikan kepanduan sebagai garda non-militer yang berkontribusi besar pada perjuangan bangsa.
Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia tahun 1949, berbagai organisasi kepanduan kembali tumbuh. Namun, banyaknya organisasi membuat pemerintah merasa perlu menyatukan gerakan ini. Hingga akhirnya, pada 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno meresmikan berdirinya Gerakan Pramuka sebagai organisasi tunggal kepanduan Indonesia, menggantikan beragam organisasi yang ada.
Sejak saat itu, tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Nasional, bukan hanya sebagai perayaan berdirinya organisasi, tetapi juga penghormatan kepada para pandu yang telah berjuang demi kemerdekaan.
Kini, Gerakan Pramuka terus menanamkan nilai-nilai patriotisme, disiplin, dan cinta tanah air kepada generasi muda. Warisan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi pengingat bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi bagian dari perjalanan bangsa.
Melalui semangat “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”, Pramuka berkomitmen melahirkan generasi yang siap membela negara, sebagaimana para pendahulunya yang berjuang demi tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia.(ADR)

