DRADIO.ID – Slank kembali melakukan apa yang sejak lama mereka kuasai: menertawakan kekuasaan dengan cara yang paling menyakitkan—jujur dan tanpa basa-basi. Lewat lagu terbarunya berjudul “Republik Fufufafa”, band legendaris ini seolah membuka cermin besar di hadapan publik, memaksa kita menatap wajah republik yang kian hari kian terasa ganjil, gaduh, dan penuh sandiwara.
Judul “Republik Fufufafa” bukan sekadar permainan kata. Ia terdengar kekanak-kanakan, absurd, bahkan nyaris tak bermakna. Justru di situlah letak kritiknya. Slank seperti ingin mengatakan: beginilah negara ini dijalankan—dengan narasi yang sering kali terdengar lucu, namun dampaknya nyata dan serius bagi kehidupan rakyat.
Lirik-lirik dalam lagu ini menyuguhkan satire telanjang tentang elite yang gemar berbicara, berjanji, dan berpose, tetapi absen ketika rakyat membutuhkan solusi. “Republik” yang digambarkan Slank bukan negara fiktif; ia sangat familiar. Terlalu familiar. Sebuah ruang di mana kekuasaan lebih sibuk mengelola citra ketimbang kenyataan, dan kegaduhan lebih penting daripada kebijakan yang masuk akal.
Secara musikal, Slank sengaja tidak bersembunyi di balik kompleksitas. Musiknya sederhana, nyaris mentah—sebuah pilihan sadar agar perhatian pendengar tak lari dari pesan. Ini bukan lagu untuk pamer teknik, melainkan alat komunikasi politik dalam bentuk paling telanjang. Rock ala Slank kembali berfungsi sebagai medium perlawanan, bukan sekadar hiburan nostalgia.
Yang menarik, “Republik Fufufafa” hadir di tengah situasi publik yang kian lelah. Lelah pada drama politik tanpa ujung, lelah pada konflik buatan, dan lelah pada logika kekuasaan yang sering terasa tidak masuk akal. Slank menangkap kelelahan itu, lalu mengubahnya menjadi tawa pahit—tawa orang-orang yang sadar sedang dipermainkan, tetapi tetap dipaksa menonton.
Tak mengherankan jika lagu ini cepat memantik reaksi. Di media sosial, “Republik Fufufafa” dibaca sebagai sindiran keras terhadap kondisi demokrasi yang makin bising namun miskin makna. Bagi sebagian orang, lagu ini terasa “terlalu berani”. Namun justru di situlah relevansinya: musik yang tidak mengganggu biasanya hanya akan cepat dilupakan.
Dengan lagu ini, Slank sekali lagi menegaskan posisi mereka: bukan band netral, bukan pula penjilat kekuasaan. “Republik Fufufafa” adalah pengingat bahwa di republik yang sering menertawakan akal sehat, musik masih bisa berdiri sebagai suara kewarasan. Dan bagi mereka yang merasa tersindir—barangkali memang sudah waktunya bercermin lebih lama. ( TIM )











