DRADIO.ID – Jumlah siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bertambah menjadi 105 orang pada Rabu (21/10/2026).
Dua siswa tambahan dilaporkan mengalami keluhan setelah pulang ke rumah. Keduanya kemudian menyusul untuk mendapatkan penanganan medis.
Insiden tersebut turut menjadi sorotan setelah Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 yang memasok menu MBG ke sekolah tersebut.
Penghentian operasional diberlakukan selama 20 hari untuk keperluan evaluasi dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Rabu (21/10/2026).
Kepala Puskesmas Cibulakan, dr. Nurul, mengatakan sebagian besar siswa yang sebelumnya mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua telah diperbolehkan pulang.
“Dari total 105 orang, sekarang tinggal tujuh orang yang masih dalam observasi,” ujar Nurul, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, kondisi para siswa secara umum relatif kondusif. Belum ada laporan pasien yang mengalami kondisi berat akibat kejadian tersebut.
Dari tujuh siswa yang masih menjalani pemantauan medis, satu orang memiliki indikasi untuk menjalani rawat inap. Namun, kondisi siswa tersebut juga dipengaruhi penyakit penyerta yang telah dimilikinya.
Sementara enam siswa lainnya masih menjalani observasi karena mengalami keluhan berupa mual, sakit perut, perut melilit, hingga pusing.
“Yang lainnya insyaallah malam ini bisa pulang semua, selain satu orang itu,” katanya.
Penambahan jumlah korban dari sebelumnya 103 menjadi 105 siswa terjadi setelah dua siswa kembali mengeluhkan gejala ketika sudah berada di rumah.
Keduanya kemudian mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. Dengan demikian, total siswa yang tercatat mengalami gejala dan mendapatkan penanganan mencapai 105 orang.
Nurul memperkirakan jumlah korban tidak akan bertambah lagi. Sebagian besar siswa diketahui telah mengonsumsi menu MBG pada pagi hari, sementara hingga sore tidak ditemukan laporan tambahan selain dua siswa tersebut.
Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi siswa yang masih menjalani observasi.
Di tengah penanganan para siswa, dugaan penyebab kejadian mengarah pada susu UHT yang dibagikan sebagai bagian dari menu MBG.
Kepala KPPG Bogor, Haidir, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah siswa mengalami gejala setelah meminum susu yang dibagikan dalam program tersebut.
Namun, dugaan itu belum dapat dipastikan sebagai penyebab kejadian. Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui apakah makanan atau minuman yang dikonsumsi siswa berkaitan dengan gangguan kesehatan tersebut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah mengambil sampel makanan dan minuman untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bogor. Sampel yang diperiksa mencakup makanan yang tersimpan sebagai sampel pembanding serta bahan lain yang dikumpulkan untuk penyelidikan.
Sementara itu, pihak SPPG Leuwimalang 01 juga mengungkapkan adanya laporan mengenai susu kemasan Diamond UHT Full Cream yang diduga mengalami kerusakan.
Ketua SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Fima Aditya Nugraha, mengatakan pihaknya menerima laporan dari sekolah setelah sejumlah siswa mengalami mual dan muntah.
Menurut penjelasan pihak SPPG, distribusi MBG tiba di SMPN 2 Cisarua sekitar pukul 08.03 WIB. Laporan mengenai siswa yang mengalami keluhan diterima sekitar pukul 08.30 WIB, kemudian pihak SPPG mendatangi sekolah untuk berkoordinasi dan menindaklanjuti kejadian tersebut.
Pihak SPPG menyebut kemasan susu yang diperiksa mencantumkan tanggal kedaluwarsa Maret 2027. Meski demikian, tanggal kedaluwarsa saja tidak cukup untuk memastikan bahwa produk tersebut dalam kondisi layak konsumsi.
Sampel terkait telah diserahkan untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab kejadian tersebut.
Atas kejadian yang menimpa para siswa, pihak SPPG Leuwimalang 01 menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf. Pengelola juga menyatakan siap bekerja sama dengan pihak berwenang dalam proses pemeriksaan.
Pihak SPPG berkomitmen melakukan evaluasi terhadap pengawasan mutu dan distribusi produk, serta melaksanakan perbaikan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan instansi terkait.
Di sisi lain, penghentian operasional selama 20 hari menjadi langkah sementara untuk memberikan ruang bagi evaluasi terhadap pelaksanaan layanan penyediaan MBG di dapur tersebut.
Hingga Rabu (21/10/2026), penyebab pasti dugaan keracunan yang dialami 105 siswa SMPN 2 Cisarua masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan sumber masalah sekaligus menentukan langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Catatan: Jumlah korban, kondisi pasien, dan perkembangan penanganan dalam berita ini mengacu pada keterangan yang tersedia hingga Rabu malam, 21 Oktober 2026.(ADR)












