DRADIO.ID — Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini bergerak jauh melampaui kemampuan menghasilkan gambar, suara, dan video palsu melalui teknologi deepfake.
AI semakin mampu mengenali pola perilaku pengguna, melakukan profiling, mengingat percakapan sebelumnya, menyesuaikan respons, hingga menciptakan interaksi yang terasa personal. Perkembangan tersebut membuka kemungkinan munculnya bentuk hubungan baru antara manusia dan mesin yang dikenal sebagai synthetic relations atau hubungan sintetis.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa perkembangan AI dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan ketika teknologi tersebut mulai masuk semakin dalam ke kehidupan sosial manusia.
Menurut Nezar, AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi mulai terlibat dalam pengambilan keputusan dan membentuk pola interaksi sosial.
“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” ujar Nezar dalam acara Philo Connect di Jakarta Barat, Rabu (19/8/2026).
Nezar menjelaskan, perkembangan teknologi menuju embodied AI atau physical AI, termasuk robot humanoid, membuat interaksi manusia dengan mesin berpotensi menjadi semakin kompleks.
Dengan dukungan large language model (LLM), AI dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, dan membangun hubungan yang disebutnya sebagai synthetic relations.
“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” kata Nezar.
Hubungan sintetis (synthetic relationships) merujuk pada hubungan sosial atau ikatan emosional antara manusia dan sistem AI yang dirancang untuk memberikan pengalaman interaksi menyerupai hubungan antarmanusia.
AI companion menjadi salah satu contoh paling jelas. Berbeda dengan chatbot yang hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan, AI companion dirancang untuk mempertahankan percakapan, mengingat informasi mengenai pengguna, memberikan respons emosional, serta menciptakan kesan adanya kesinambungan hubungan.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada Agustus 2026 mendefinisikan synthetic relationships sebagai ikatan sosial menyerupai hubungan manusia dengan AI. Penelitian tersebut menemukan bahwa hubungan semacam ini memiliki potensi manfaat, terutama dalam memberikan dukungan dan mengurangi kesepian, tetapi juga membawa risiko seperti ketergantungan emosional dan menurunnya penghargaan terhadap hubungan antarmanusia.
Dengan kata lain, AI tidak harus benar-benar memiliki perasaan untuk membuat manusia merasa sedang berhubungan dengan “seseorang”.
Kemampuan AI dalam mempertahankan konteks percakapan, menggunakan bahasa yang hangat, menyesuaikan respons dengan karakter pengguna, dan tersedia hampir sepanjang waktu dapat menciptakan perasaan adanya hubungan timbal balik, meskipun pada dasarnya pengguna sedang berinteraksi dengan sebuah sistem komputasi.
Dalam diskusi di Harvard University pada April 2026, Associate Professor of Philosophy di University of Oxford, Carissa Véliz, mengingatkan bahwa empati yang ditampilkan chatbot pada dasarnya merupakan simulasi.
Menurut Véliz, chatbot dapat memberikan respons yang terdengar empatik karena memang dirancang untuk merespons pengguna dengan cara tertentu. Namun, hal tersebut tidak berarti mesin benar-benar memahami atau memiliki kepedulian seperti manusia.
Ia menilai pengguna berisiko salah memahami kemampuan tersebut ketika respons AI yang selalu sabar, mendukung, dan memvalidasi dianggap sebagai bentuk kepedulian yang sesungguhnya.
Masalahnya, hubungan antarmanusia justru tidak selalu berjalan seperti itu.
Manusia dapat berbeda pendapat, menolak, mengkritik, atau bahkan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Menurut Véliz, pengalaman tersebut justru merupakan bagian penting dalam pembentukan kemampuan sosial manusia.
Profesor Harvard Law School Jonathan Zittrain juga mengingatkan bahwa AI companion dapat menjadi pengganti interaksi manusia apabila digunakan secara berlebihan.
Dalam diskusi Harvard pada April 2026, Zittrain menggambarkan chatbot sebagai versi yang lebih mudah dan nyaman dibandingkan interaksi manusia secara langsung. Masalahnya, kenyamanan tersebut berpotensi menjadi “penopang” yang membuat seseorang semakin jarang membangun hubungan dengan manusia lain.
Zittrain bersama Joshua Joseph juga sebelumnya memperingatkan bahwa chatbot AI dapat berpindah peran dengan sangat mudah—dari alat bantu belajar menjadi teman, kemudian menjadi companion atau bahkan penasihat pribadi—tanpa selalu menjelaskan secara tegas kepada pengguna hubungan seperti apa yang sedang dibangun.
Hal ini menjadi semakin penting ketika pengguna masih berusia anak-anak atau remaja.
Riset Terbaru: AI Companion Bisa Membantu, tetapi Juga Berisiko
Kekhawatiran terhadap AI companion tidak berarti seluruh interaksi manusia dengan AI selalu berdampak negatif.
Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Human Behaviour pada 4 Agustus 2026 menganalisis 1.131 pengguna Character.AI di Amerika Serikat serta ribuan sesi percakapan. Studi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pola penggunaan AI companion dan kondisi psikologis pengguna, tetapi efeknya tidak sederhana dan dapat berbeda berdasarkan karakteristik pengguna serta pola interaksi.
Penelitian lain terhadap 14.721 orang dewasa di Jepang juga menemukan bahwa penggunaan AI companion berkaitan dengan tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi, terutama pada pengguna yang mengalami kesepian atau memiliki tingkat koneksi sosial tertentu. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa AI secara langsung menyebabkan peningkatan kesejahteraan.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI companion memiliki dua sisi.
Di satu sisi, teknologi tersebut dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk berbicara, mengekspresikan diri, berlatih berkomunikasi, atau memperoleh dukungan ketika merasa kesepian.
Di sisi lain, penggunaan yang terlalu bergantung pada AI berpotensi mengurangi dorongan untuk mencari dukungan dari manusia.
Hubungan dengan AI Bisa Berubah Menjadi Ketergantungan
Kajian sistematis yang diterbitkan pada Mei 2026 menganalisis 39 penelitian empiris mengenai hubungan parasosial antara manusia dan AI.
Hasil kajian tersebut menemukan sejumlah manfaat, termasuk dukungan emosional, pemenuhan kebutuhan sosial, hiburan, pengembangan diri, serta rasa memiliki terhadap komunitas.
Namun, para peneliti juga mengidentifikasi sejumlah risiko, seperti ketergantungan emosional, tergesernya hubungan manusia, eksploitasi data dan privasi, persuasi komersial, serta perilaku penggunaan yang kompulsif.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang “berteman” dengan AI.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh hubungan tersebut mulai menggantikan hubungan manusia yang sebenarnya.
Anak Muda Menjadi Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian
Risiko tersebut menjadi semakin kompleks ketika pengguna adalah remaja.
Kajian yang diterbitkan Child Development Perspectives pada Januari 2026 menyebut AI companion dapat menjadi ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi identitas dan mengekspresikan emosi.
Namun, teknologi yang sama juga berpotensi menyebabkan penggunaan waktu yang berlebihan, ketergantungan psikologis, serta munculnya ekspektasi hubungan yang tidak realistis.
AI memiliki karakter yang berbeda dengan manusia: selalu tersedia, tidak mudah lelah, dapat merespons dalam hitungan detik, dan dapat disesuaikan dengan preferensi pengguna.
Kondisi tersebut justru dapat membuat hubungan dengan AI terasa lebih mudah dibandingkan hubungan dengan manusia yang penuh ketidakpastian.
Penelitian yang diterbitkan Journal of Computer-Mediated Communication pada Juli 2026 menemukan bahwa desain AI companion yang menyerupai manusia dapat menurunkan batas pengguna dalam mengungkapkan informasi pribadi.
Dalam penelitian tersebut, pengguna AI companion dilaporkan cenderung semakin terbuka ketika hubungan dengan AI berkembang. Sebagian bahkan memperlakukan informasi yang mereka bagikan seolah-olah merupakan bagian dari “hubungan” mereka dengan AI, meskipun data tersebut sebenarnya berada dalam sistem perusahaan penyedia layanan.
Semakin personal sebuah AI terasa, semakin besar kemungkinan pengguna memperlakukannya seperti manusia yang dipercaya. Namun, di balik layar, percakapan tersebut tetap berlangsung di dalam sebuah sistem teknologi yang memiliki kebijakan penyimpanan, pemrosesan, dan penggunaan data.
Perkembangan AI companion tidak serta-merta berarti teknologi tersebut harus ditolak.
Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa AI dapat memberikan manfaat ketika digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti hubungan sosial manusia. AI dapat digunakan untuk membantu seseorang berlatih komunikasi, mendapatkan dukungan awal, mengeksplorasi ide, atau sekadar memiliki ruang untuk berbicara ketika sedang sendirian.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kenyamanan tersebut membuat manusia berhenti mencari interaksi dengan manusia lain.
Penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa dalam eksperimen terhadap 296 mahasiswa, interaksi berulang dengan chatbot yang dirancang suportif selama dua minggu tidak memberikan manfaat psikologis yang sama seperti berinteraksi dengan teman manusia yang dipilih secara acak.
Temuan tersebut memperkuat satu hal: AI mungkin dapat meniru sebagian pengalaman sosial, tetapi belum tentu dapat menggantikan seluruh fungsi hubungan manusia.
Peringatan Nezar Patria menunjukkan bahwa tantangan AI ke depan tidak hanya berkaitan dengan deepfake, hoaks, keamanan data, atau otomatisasi pekerjaan.
Persoalannya mulai masuk ke wilayah yang jauh lebih mendasar: bagaimana manusia berhubungan dengan mesin dan bagaimana mesin memengaruhi cara manusia berhubungan satu sama lain.
Ketika AI mampu mengenali pengguna, mengingat kebiasaan, memahami preferensi, menyesuaikan gaya komunikasi, dan memberikan respons yang terasa emosional, batas antara “alat” dan “teman” menjadi semakin kabur.
Karena itu, tantangan regulasi AI ke depan tidak cukup hanya memastikan apakah jawaban AI benar atau salah.
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: apakah AI sedang membantu manusia menjalani kehidupannya, atau justru perlahan membuat manusia lebih nyaman hidup bersama mesin daripada bersama manusia lainnya?
Bagi Nezar, perkembangan tersebut menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk tidak hanya meningkatkan kemampuan menggunakan AI, tetapi juga mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Sebab, ketika mesin semakin pintar memahami manusia, tantangan terbesar mungkin bukan lagi membuat AI mampu berbicara seperti manusia.
Tantangannya adalah memastikan manusia tidak lupa bagaimana berbicara, berpikir, dan membangun hubungan dengan sesamanya.(ADR)


