DRADIO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi sebanyak 2.610 titik panas atau hotspot yang tersebar di Pulau Sumatra. Data tersebut merupakan hasil pemantauan yang diperbarui pada Minggu (23/08/2026) pukul 07.00 WIB.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, mengatakan ribuan titik panas tersebut tersebar di sejumlah provinsi di Sumatra. Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni mencapai 1.311 titik.
“Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Provinsi Riau dengan 355 titik, Jambi 278 titik, Bangka Belitung dengan 268 titik, dan Lampung dengan 187 titik,” ujar Elisa.
Selanjutnya, Aceh tercatat memiliki 67 titik panas, Kepulauan Riau 55 titik, Sumatra Utara 45 titik, Sumatra Barat 27 titik, dan Bengkulu 17 titik.
Riau dan Pelalawan Jadi Perhatian
Dari total 355 hotspot yang terdeteksi di Riau, titik panas tersebar di 11 kabupaten/kota. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, yakni mencapai 216 titik.
Posisi berikutnya ditempati Indragiri Hilir dengan 80 titik, Kuantan Singingi 12 titik, Kampar 11 titik, Siak 10 titik, Kepulauan Meranti tujuh titik, Indragiri Hulu enam titik, Bengkalis lima titik, Rokan Hulu tiga titik, Rokan Hilir tiga titik, serta Kota Dumai dua titik.
Tingginya konsentrasi hotspot tersebut menjadi perhatian karena sejumlah wilayah Riau tengah menghadapi kondisi cuaca yang relatif kering. BMKG memprakirakan cuaca Riau pada Minggu didominasi cerah berawan hingga berawan, dengan suhu udara berkisar 23–34 derajat Celsius dan kelembapan 50–95 persen.
Jambi Masuk Tiga Besar
Sementara itu, Provinsi Jambi mencatat 278 titik panas, menjadikannya wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak ketiga di Sumatra setelah Sumatra Selatan dan Riau.
Angka tersebut perlu menjadi perhatian karena potensi peningkatan hotspot masih terbuka selama periode kemarau. Polda Jambi sebelumnya menyebut berdasarkan prediksi BMKG, potensi titik panas diperkirakan meningkat hingga akhir September 2026. Kesiapsiagaan karhutla pun didorong dilakukan melalui pencegahan dan respons cepat lintas instansi.
Kemarau dan El Niño Perkuat Ancaman Karhutla
BMKG dalam prospek cuaca periode 21–27 Agustus 2026 menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kering seiring semakin luasnya wilayah yang memasuki musim kemarau. BMKG juga menyatakan kondisi El Niño sangat kuat turut menjadi perhatian dalam periode tersebut. Meski demikian, hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi kering menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. Karena itu, peningkatan hotspot di Sumatra perlu diikuti dengan pemantauan dan verifikasi di lapangan.
BMKG menjelaskan bahwa hotspot tidak selalu berarti kebakaran hutan dan lahan. Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi sensor satelit. Wilayah yang tertutup awan atau berada dalam area yang tidak terpantau satelit juga dapat menyebabkan hotspot tidak terdeteksi.
Asap Mulai Berdampak pada Jarak Pandang
Di Riau, tingginya aktivitas hotspot juga mulai berdampak terhadap kondisi atmosfer. Pada Sabtu (22/08/2026) malam, jarak pandang di Pekanbaru dilaporkan terbatas dengan kondisi berasap. Kualitas udara pada dini hari hingga pagi juga dilaporkan masuk kategori tidak sehat.
Manggala Agni melaporkan kebakaran lahan di Riau dalam beberapa hari terakhir telah menghanguskan lebih dari 700 hektare lahan, dengan area terdampak antara lain berada di Indragiri Hulu dan Pelalawan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hotspot di Sumatra perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan yang rentan terbakar.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta terus mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.(ADR)









