Anak Muda Pilih Olahraga, Industri Alkohol Dunia Mulai Tertekan

DRADIO.ID – Gaya hidup masyarakat global perlahan mengalami perubahan. Aktivitas seperti lari, gym, padel, pilates, bersepeda, hingga berbagai olahraga rekreasi semakin populer dan menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kebugaran.

Perubahan tersebut ikut memengaruhi cara masyarakat menghabiskan waktu dan uang. Nongkrong di bar atau minum alkohol tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk bersosialisasi. Sebagian konsumen mulai mengalihkan pengeluaran untuk olahraga, perjalanan, kopi premium, kuliner, hingga berbagai pengalaman yang dianggap lebih sesuai dengan gaya hidup sehat.

Dampaknya mulai terasa di industri minuman beralkohol global. Bloomberg melaporkan bahwa saham sekitar 50 perusahaan bir, wine, dan minuman beralkohol besar dunia kehilangan nilai pasar gabungan sekitar US$830 miliar atau setara Rp13.500 triliun lebih dalam sedikit lebih dari empat tahun. Angka tersebut merupakan penurunan kapitalisasi pasar, bukan berarti perusahaan-perusahaan tersebut kehilangan uang tunai sebesar US$830 miliar. Indeks perusahaan tersebut berada sekitar 46 persen di bawah rekor pada Juni 2021.

Tekanan terhadap industri juga terlihat dari volume konsumsi. Data terbaru IWSR menunjukkan volume total minuman beralkohol di 15 pasar utama dunia turun sekitar 3 persen pada 2025, lebih dalam dibandingkan penurunan 2 persen pada 2024. Hampir seluruh kategori minuman beralkohol mengalami penurunan pada 2025, sementara minuman ready-to-drink (RTD) dan produk tanpa alkohol menjadi pengecualian.

Menariknya, perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada generasi muda. Riset IWSR terbaru yang dilakukan pada Maret 2026 menunjukkan bahwa Baby Boomers justru menjadi kelompok yang paling besar berkontribusi terhadap penurunan konsumsi alkohol pada 2025. Penurunan partisipasi kelompok usia tersebut disebut menjadi salah satu faktor utama melemahnya konsumsi minuman beralkohol secara global.

Temuan ini sekaligus mengubah anggapan bahwa Gen Z merupakan satu-satunya generasi yang menjauh dari alkohol. Dalam penelitian IWSR pada 2026, sekitar 74 persen konsumen Gen Z usia legal minum dilaporkan masih mengonsumsi alkohol. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 66 persen pada 2023 dan kini mendekati tingkat partisipasi konsumen dewasa secara keseluruhan.

Artinya, fenomena yang terjadi bukan sekadar generasi muda berhenti minum. Konsumen di berbagai kelompok usia justru semakin selektif dalam menentukan kapan dan seberapa banyak mereka mengonsumsi alkohol. Faktor kesehatan, perubahan gaya hidup, tekanan biaya hidup, serta berkembangnya pilihan minuman nonalkohol ikut membentuk kebiasaan baru tersebut.

Pertumbuhan kategori minuman tanpa dan rendah alkohol menjadi salah satu bukti perubahan tersebut. IWSR mencatat volume kategori no- dan low-alcohol di 10 pasar utama dunia tumbuh 13 persen pada 2024. Dalam periode 2022 hingga 2024, sekitar 61 juta konsumen baru masuk ke kategori minuman tanpa alkohol dan 38 juta masuk ke kategori rendah alkohol.

IWSR juga memperkirakan konsumsi total minuman beralkohol di 10 pasar utama masih dapat tumbuh secara moderat hingga 2028, tetapi kategori tanpa alkohol diperkirakan terus meningkatkan pangsanya. Artinya, perubahan perilaku konsumen tidak serta-merta menghilangkan industri minuman, melainkan mendorong perusahaan untuk mencari bentuk konsumsi baru.

Perusahaan besar pun mulai merespons tekanan tersebut. Pada Agustus 2026, Diageo—pemilik sejumlah merek minuman beralkohol global—mengumumkan rencana penghematan sekitar US$1 miliar setelah menghadapi pertumbuhan yang lemah. Pendapatan bersih perusahaan pada tahun fiskal terakhir turun 3 persen menjadi sekitar US$19,64 miliar. Perusahaan juga mulai mengarahkan perhatian lebih besar pada produk seperti Guinness dan minuman koktail dalam kemasan.

Di sisi lain, tren wellness terus berkembang menjadi bagian dari keputusan konsumsi. Bagi sebagian konsumen, olahraga bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang untuk bersosialisasi dan membangun identitas. Komunitas lari, gym, padel, dan berbagai aktivitas kebugaran menciptakan alternatif baru terhadap budaya nongkrong yang sebelumnya identik dengan konsumsi alkohol.

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh penurunan konsumsi alkohol hanya dikaitkan dengan tren olahraga atau Gen Z. Faktor ekonomi juga memainkan peran penting. IWSR menyebut meningkatnya biaya hidup dan kecenderungan konsumen melakukan moderasi turut menekan pengeluaran untuk alkohol di sejumlah pasar besar dunia.

Dengan demikian, industri alkohol global kini menghadapi perubahan yang lebih kompleks. Konsumen tidak selalu berhenti minum sepenuhnya, tetapi semakin banyak yang memilih minum lebih sedikit, memilih momen tertentu, atau beralih ke produk tanpa alkohol.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa wellness bukan lagi sekadar tren sesaat. Perubahan cara masyarakat menikmati waktu luang, menjaga kesehatan, bersosialisasi, dan mengatur pengeluaran mulai membentuk pola konsumsi baru. Bagi industri alkohol, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat orang kembali minum, tetapi bagaimana memahami konsumen yang kini memiliki semakin banyak pilihan untuk menikmati hidup tanpa harus selalu mengonsumsi alkohol.(ADR)