DRADIO.ID – Seluruh musisi pendukung yang dijadwalkan tampil dalam rangkaian Loop Tour Ed Sheeran memutuskan mengundurkan diri sebagai bentuk solidaritas terhadap rapper asal Amerika Serikat, Macklemore, yang sebelumnya dikeluarkan dari tur setelah menyuarakan dukungannya kepada Palestina.
Finneas menjadi nama terbaru yang menyatakan mundur dari rangkaian konser tersebut. Penyanyi sekaligus produser musik asal Amerika Serikat itu sebelumnya dijadwalkan membuka enam konser Ed Sheeran di Amerika Selatan pada November mendatang.
Melalui unggahan di media sosial pada Selasa (15/09/2026), Finneas menyatakan dirinya menolak pembungkaman terhadap musisi yang menyuarakan dukungan kepada masyarakat tertindas.
“Artists must not be silenced when they speak up for the oppressed. I stand with Palestine and its people,” tulis Finneas dalam pernyataannya, sebagaimana diberitakan The Guardian dan Los Angeles Times.
Keputusan Finneas tersebut menyusul pengunduran diri Aaron Rowe, penyanyi asal Irlandia yang sebelumnya dijadwalkan tampil dalam 10 konser tersisa di Amerika Utara. Rowe mengatakan dirinya tidak dapat melanjutkan tur setelah Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil.
Dalam pernyataannya, Rowe mengaitkan sikap tersebut dengan latar belakang sejarah Irlandia yang memiliki pengalaman terkait pendudukan, kelaparan paksa, dan konflik kemanusiaan. Ia menyebut keputusan mundur tidak diambil dengan mudah karena memiliki hubungan baik dengan Ed Sheeran.
Selain Rowe, band folk asal Irlandia, Beoga, yang selama ini menjadi backing band Ed Sheeran, juga menyatakan mundur dari rangkaian konser Amerika Serikat.
Beoga menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka anggap sebagai pembungkaman Macklemore. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun media sosial resmi mereka dan dikutip oleh sejumlah media internasional, termasuk The Guardian dan RTÉ.
Sementara itu, grup musik asal Denmark, Lukas Graham, turut membatalkan penampilannya dalam tur tersebut. Vokalis Lukas Graham, Lukas Forchhammer, mengatakan para musisi seharusnya tetap memiliki kebebasan untuk membicarakan perang, korban sipil, dan anak-anak yang menjadi korban konflik.
“Money doesn’t give you the right to own the conversation,” tulis Forchhammer dalam pernyataannya, dikutip The Guardian.
Dengan mundurnya Finneas, Aaron Rowe, Beoga, dan Lukas Graham, seluruh musisi pendukung yang sebelumnya dijadwalkan tampil dalam rangkaian Loop Tour kini telah meninggalkan tur tersebut. Informasi mengenai pengunduran diri seluruh musisi pendukung tersebut juga dikonfirmasi oleh CBS News dan The Washington Post pada 15 September 2026.
Sebelumnya, rapper AS Macklemore dikeluarkan dari sisa rangkaian Loop Tour Ed Sheeran di Amerika Serikat setelah menyerukan “Free Palestine” di atas panggung.
Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah pengelola venue konser menyatakan keberatan jika Macklemore tetap tampil dalam daftar penampil. Promotor Messina Touring Group menyebut beberapa pihak pengelola lokasi konser bahkan mengancam akan membatalkan pertunjukan apabila Macklemore tetap tampil.
“Sebagai promotor konser untuk ‘Loop Tour’ Ed Sheeran di AS, kami telah diberi tahu oleh pihak pengelola lokasi konser terkait jadwal tur mendatang bahwa mereka tidak mengizinkan konser berlangsung jika Macklemore termasuk dalam daftar penampil,” ujar Messina Touring Group, dikutip The Guardian, Senin (14/9/2026).
Promotor menyebut situasi tersebut berpotensi menyebabkan pembatalan tur dan berdampak terhadap ratusan ribu penggemar. Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak, diputuskan bahwa Macklemore tidak akan tampil dalam sisa jadwal pertunjukan pendukung.
Macklemore sebelumnya dijadwalkan membuka sejumlah pertunjukan terakhir tur Ed Sheeran di Amerika Serikat, termasuk konser di Philadelphia pada 19 September 2026.
Kontroversi bermula ketika Macklemore tampil sebagai musisi pembuka dalam rangkaian Loop Tour di MetLife Stadium, New Jersey, pada 4 September 2026.
Dalam pidatonya, Macklemore menyampaikan dukungan kepada masyarakat Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Ia juga mengajak penonton meneriakkan seruan “Free Palestine”.
“Salah satu alasan utama saya ingin menjalani tur ini sejak awal adalah agar saya bisa berdiri di stadion seperti ini dan mengucapkan dua kata yang sangat bermakna bagi saya: Free Palestine,” ujar Macklemore.
Pernyataan tersebut kemudian memicu reaksi dari sejumlah kelompok dan pengelola venue. Reuters melaporkan bahwa salah satu pihak yang turut mendorong agar Macklemore dikeluarkan dari tur adalah Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium dan New England Patriots.
Ed Sheeran kemudian memberikan klarifikasi melalui media sosial terkait keluarnya Macklemore dari tur.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan berasal darinya secara pribadi, melainkan dari promotor tur dan pemilik sejumlah venue konser.
Menurut Sheeran, beberapa pengelola stadion telah menyampaikan bahwa konser tidak akan berlangsung apabila Macklemore tetap tercantum sebagai salah satu penampil.
Sheeran mengatakan dirinya telah berusaha mencari solusi bersama berbagai pihak selama beberapa hari terakhir, namun tidak berhasil menemukan jalan keluar. Ia juga menyatakan tidak ingin mengecewakan para penggemar yang telah membeli tiket maupun para kru yang menggantungkan penghasilan dari rangkaian tur tersebut.
Pernyataan Ed Sheeran mengenai keputusan promotor tersebut dikutip oleh The Guardian, CBS News, dan ITV News dalam pemberitaan mereka pada 15 September 2026.
Setelah dikeluarkan dari tur, Macklemore menyatakan dirinya tidak menyesal telah menggunakan panggung konser untuk menyuarakan dukungan kepada Palestina.
Melalui media sosial, ia menegaskan bahwa dukungannya terhadap Palestina merupakan bagian dari kepeduliannya terhadap penderitaan masyarakat sipil akibat konflik.
Macklemore juga mengatakan bahwa pernyataannya bukan ditujukan untuk menyerang masyarakat Yahudi, melainkan sebagai seruan untuk mengakhiri kekerasan dan memperjuangkan perlakuan yang setara bagi seluruh manusia.
Perkembangan terbaru mengenai kontroversi tersebut terus mendapat perhatian publik internasional karena mempertemukan isu kebebasan berekspresi musisi, tekanan dari pemilik venue, serta posisi industri hiburan terhadap isu politik dan kemanusiaan.(ADR)












