DRADIO.ID – Platform layanan streaming musik Spotify mengungkapkan telah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam hasil kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya jumlah musik buatan AI yang membanjiri platform.
Kepala Global Artis, Pemasaran, dan Kebijakan Spotify, Sam Duboff, mengatakan saat ini Spotify menerima sekitar 100 ribu lagu baru setiap hari, dan jumlah karya yang dibuat menggunakan teknologi AI terus meningkat.
Untuk mengatasi fenomena tersebut, Spotify membentuk tim khusus yang bertugas mendeteksi serta menghapus lagu-lagu AI yang dinilai dibuat dengan kualitas rendah dan diproduksi secara massal.
“Itulah konten ‘low-effort’ yang diproduksi massal, diunggah secara massal, dan merupakan hasil AI yang asal-asalan. Kami telah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam dalam setahun terakhir,” ujar Duboff saat berkunjung ke Australia.
Perkembangan AI generatif kini menjadi salah satu tantangan terbesar industri musik global. Di satu sisi, teknologi tersebut membuka peluang baru bagi para kreator. Namun di sisi lain, AI memunculkan persoalan terkait hak cipta, keaslian karya, hingga pembagian royalti bagi musisi.
Spotify juga mengungkapkan bahwa persoalan tidak hanya berasal dari banyaknya lagu yang diunggah, tetapi juga dari perusahaan-perusahaan AI yang mengambil musik dari internet untuk melatih model kecerdasan buatan mereka.
Karena itu, perusahaan mengaku telah berinvestasi pada berbagai sistem keamanan guna melindungi katalog musik yang ada di platform serta mencegah pengambilan data tanpa izin.
Sementara itu, sejumlah organisasi industri musik dunia seperti International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), Recording Industry Association of America (RIAA), dan Recording Academy mulai memperkenalkan sistem pelabelan sukarela bagi musik yang dihasilkan maupun dibantu oleh AI.
Melalui sistem tersebut, pendengar nantinya dapat mengetahui apakah sebuah lagu dibuat sepenuhnya oleh AI atau diciptakan oleh musisi yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu kreatif.
Langkah serupa juga dilakukan platform streaming musik lainnya. Deezer mengungkapkan bahwa hampir separuh lagu baru yang diterimanya setiap hari merupakan hasil buatan AI. Perusahaan itu bahkan telah meluncurkan teknologi pendeteksi musik AI yang diklaim memiliki tingkat akurasi mencapai 99,8 persen.
Meningkatnya penggunaan AI dalam industri musik mendorong layanan streaming, pemerintah, hingga pelaku industri untuk terus mencari keseimbangan antara inovasi teknologi, perlindungan hak cipta, serta keberlangsungan profesi para musisi di era digital.(ADR)












