DRADIO.ID – Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah nama tokoh yang tercantum sebagai kontributor membantah keterlibatan mereka. Kontroversi ini mencuat dalam waktu kurang dari 48 jam sejak daftar isi buku tersebut beredar luas dan memicu pertanyaan dari warganet.
Tiga nama besar yang namanya tercantum di dalam buku tersebut menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan atau memberikan izin pencantuman nama mereka. Ketiga tokoh tersebut adalah mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, serta mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.
TGB menjadi salah satu pihak yang memberikan klarifikasi secara terbuka di media sosial. Saat ditanya oleh warganet mengenai kebenaran keterlibatannya pada kolom komentar unggahan Instagram pribadinya, TGB membalas dengan tegas bahwa ia tidak pernah mengirimkan tulisan apa pun untuk karya tersebut.
Meskipun TGB telah memberikan bantahan, namanya tetap tercantum secara resmi pada halaman 241 buku tersebut. Di sana, namanya disematkan pada bab tulisan yang berjudul Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.
Sanggahan serupa juga datang dari pihak keluarga Gus Kautsar melalui unggahan media sosial istrinya, Ning Jazil. Ia menyampaikan keheranannya atas pencantuman nama suaminya dan menyayangkan sikap tim penulis yang tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pihak yang bersangkutan.
Dalam buku tersebut, nama Gus Kautsar ditempatkan sebagai penulis pada bab Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto yang berada di halaman 318. Ketidaksesuaian ini memperkuat dugaan adanya kelemahan dalam prosedur perizinan karya tulis.
Tokoh ketiga yang menyangkal keterlibatannya adalah mantan Ketua Umum PBNU dua periode, KH Said Aqil Siradj. Namanya tercantum pada bagian Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto dalam Bagian II yang membahas topik Spiritualitas Prabowo Subianto di halaman 129.
Bantahan dari Said Aqil beredar dalam bentuk tangkapan layar percakapan pesan singkat, di mana ia mengaku terkejut dan tidak tahu-menahu mengenai pencantuman namanya. Meski demikian, penjelasan rinci mengenai bagaimana substansi pemikirannya bisa masuk ke dalam buku tersebut belum disampaikan secara resmi.
Buku Islam Ala Prabowo ini sebenarnya telah diluncurkan pada Selasa, 26 Agustus 2025, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Peluncurannya bertepatan dengan rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan dihadiri sejumlah tokoh nasional.
Buku yang digagas oleh Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar ini ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Salah satu tokoh yang mengonfirmasi keterlibatan resminya adalah KH Asep Saifuddin Chalim yang menulis bagian epilog.
Munculnya gelombang bantahan ini memicu kritik publik terhadap etika penerbitan dan proses editorial tim penyusun buku. Publik mempertanyakan apakah tulisan yang disematkan merupakan hasil klaim sepihak atau saduran dari penyataan lama para tokoh di media massa tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu.
Polemik ini terus mendapat perhatian luas karena menyangkut kredibilitas akademis dan etika jurnalistik karya yang mengulas sosok Presiden Prabowo Subianto. Hingga saat ini, pihak penggagas maupun tim penulis buku belum memberikan tanggapan resmi untuk menjelaskan mekanisme penyusunan karya tersebut.(ADR)









