DRADIO.ID – Di tengah meningkatnya persaingan teknologi global, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi arena utama kompetisi antara China dan Amerika Serikat. Jika pada abad ke-20 perebutan pengaruh ditentukan oleh kekuatan militer dan energi, maka pada abad ke-21 pertarungan bergeser pada penguasaan data, komputasi, chip semikonduktor, dan ekosistem AI.
Momentum terbaru terlihat dari rencana penyelenggaraan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang. Forum ini diposisikan China bukan sekadar pameran teknologi, melainkan ruang strategis untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu pusat perkembangan AI dunia.
Pemerintah China menegaskan bahwa tata kelola AI bukan lagi isu teknis semata, tetapi persoalan yang akan memengaruhi masa depan umat manusia. Beijing mendorong pendekatan yang menekankan keterbukaan, multilateralisme, pengelolaan risiko, serta kerja sama lintas negara dalam penyusunan regulasi dan standar keamanan AI.
Di sisi lain, Amerika Serikat selama ini masih memegang posisi kuat melalui dominasi perusahaan teknologi yang berbasis di Silicon Valley. Ekosistem tersebut menjadi rumah bagi berbagai pengembang model AI, infrastruktur komputasi, serta industri semikonduktor yang selama bertahun-tahun memimpin inovasi digital global.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, China mempercepat langkah melalui investasi besar pada pusat data, komputasi awan, robotika, model bahasa besar (LLM), dan manufaktur berbasis AI. Strategi tersebut diperkuat dengan dukungan kebijakan negara dan integrasi cepat ke sektor riil seperti industri, logistik, kesehatan, hingga layanan publik.
Salah satu kekuatan utama China yang sering disebut para pengamat adalah skala data domestik yang sangat besar. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar penduduk dan tingkat aktivitas digital yang tinggi, China memiliki sumber pembelajaran AI yang luas dari transaksi elektronik, transportasi digital, media sosial, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dalam pengembangan AI modern, data memiliki posisi penting karena menentukan kemampuan model untuk memahami pola, meningkatkan akurasi, dan memperluas kemampuan pengambilan keputusan. Meski demikian, para ahli juga menegaskan bahwa keberhasilan AI tidak hanya ditentukan oleh jumlah data, tetapi juga kualitas data, daya komputasi, talenta riset, dan regulasi yang mendukung.
Selain model AI generatif, kompetisi kini meluas ke pengembangan robot humanoid dan sistem AI yang mampu berinteraksi langsung di dunia nyata atau dikenal sebagai embodied AI. Bidang ini diperkirakan menjadi salah satu penggerak transformasi industri pada dekade berikutnya.
China dinilai memiliki keunggulan dalam manufaktur dan rantai pasok yang memungkinkan produksi perangkat berbasis AI secara cepat dan dalam skala besar. Sementara itu, Amerika Serikat masih unggul dalam penelitian dasar, desain chip kelas tinggi, serta pengembangan model frontier.
Persaingan juga mulai mengarah pada pencapaian Artificial General Intelligence (AGI), yaitu sistem AI yang diharapkan mampu menjalankan beragam tugas intelektual setara atau melampaui kemampuan manusia. Meski istilah AGI sering menjadi pusat perhatian industri, hingga saat ini belum ada definisi teknis tunggal maupun konsensus global mengenai kapan teknologi tersebut dapat benar-benar tercapai.
Di tengah perlombaan tersebut, isu tata kelola dan keamanan semakin menjadi perhatian. AI kini telah digunakan bukan hanya untuk sektor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga analisis intelijen, keamanan siber, sistem pertahanan, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Karena itu, diskusi global tentang AI saat ini bergerak dari pertanyaan “siapa yang memiliki model paling canggih” menjadi “siapa yang mampu membangun sistem AI yang aman, dapat dipercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.”
Melalui WAIC 2026, China tampak ingin menyampaikan pesan bahwa pusat gravitasi inovasi AI dunia tidak lagi hanya berada di Silicon Valley. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah China mampu bersaing dengan Amerika Serikat, melainkan sejauh mana persaingan tersebut akan membentuk aturan, ekonomi, dan arah perkembangan teknologi global pada dekade mendatang.(ADR)
