DRADIO.ID – Ketegangan mewarnai aksi demonstrasi lanjutan terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di depan Kantor Gubernur Jambi, Senin (12/10/2026). Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jambi, Ismed Wijaya, sempat tersulut emosi saat berhadapan dengan massa aksi yang mendesak pemerintah memberikan solusi konkret atas persoalan kabut asap.
Ismed, yang hadir bersama Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMK, Harmonis, menemui demonstran untuk menanggapi tuntutan yang disampaikan. Namun, suasana pertemuan memanas ketika jawaban dari perwakilan pemerintah belum mampu meredakan kekecewaan massa.
Di tengah situasi tersebut, Ismed sempat meminta massa menyudahi aksi demonstrasi. Ia juga mengajak demonstran untuk bersama-sama membantu pemerintah menangani persoalan karhutla. Bahkan, ia membuka ajakan agar pihak yang bersedia dapat menawarkan diri menjadi relawan.
“Kita Lihat Pemerintah Kita Sudah Turun kelapangan semua elemen sudah turun ke lapangan saya harap kawan kawan juga bisa membantu karena jujur kita masih kekurangan salah satunya dari segi personil di lapangan” Ujarnya saat menemui Massa Aksi.
Namun, ajakan tersebut tidak membuat massa mengakhiri aksi. Demonstran tetap bertahan dan mendesak adanya kepastian langkah pemerintah dalam menangani kabut asap yang berdampak terhadap masyarakat.
Ketegangan semakin terasa ketika Ismed menyinggung harga diri Pemerintah Provinsi Jambi. Ia menyampaikan bahwa aksi-aksi demonstrasi yang berlangsung kerap menjatuhkan harga diri pemerintah provinsi, sementara perwakilan pemerintah telah hadir menemui massa.
“Kalian Kebiasaan, Sudah Kita Berbicara Panjang Lebar tetapi Kamu mau menjatuhkan Harga Diri Kami” Tegasnya.
Situasi tersebut memperlihatkan perbedaan pendekatan antara pihak pemerintah dan demonstran. Di satu sisi, Ismed meminta massa mengakhiri aksi dan turut membantu pemerintah. Di sisi lain, demonstran tetap menginginkan jawaban yang lebih jelas mengenai langkah penanganan karhutla.
Setelah upaya komunikasi tidak menghasilkan kesepakatan, Ismed kemudian berbalik badan dan meninggalkan massa aksi.
Kepergian Ismed tidak serta-merta mengakhiri demonstrasi. Massa masih berkumpul di depan Kantor Gubernur Jambi dan menunggu kehadiran Gubernur Jambi Al Haris atau pejabat yang dinilai memiliki kewenangan untuk menjawab tuntutan mereka.
Aksi lanjutan ini membawa lima tuntutan utama, mulai dari desakan audit terbuka terhadap anggaran Rp30 miliar yang disebut berasal dari pemerintah pusat, percepatan pemulihan dampak kabut asap, penindakan terhadap perusahaan yang terbukti melanggar, hingga langkah pencegahan karhutla agar tidak kembali terjadi.
Massa juga memberikan tenggat waktu 5 x 24 jam agar pemerintah segera membebaskan wilayah Jambi dari kabut asap.
Perseteruan antara Ismed dan demonstran menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam aksi tersebut. Namun, persoalan utama yang masih menunggu jawaban ialah tuntutan massa mengenai transparansi anggaran serta langkah konkret pemerintah dalam menangani karhutla dan dampak kabut asap di Provinsi Jambi.(ADR)












