Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Penggunaan Konten Tidak Senonoh GROK AI?

Grok AI

DRADIO.ID – Elon Musk dan xAI mengklaim bahwa pengguna Grok AI tersebut bertanggungjawab penus atas konten yang diminta mereka, termasuk konten tak senonoh atau ilegal. Pernyataan ini didasarkan pada analogi mereka bahwa Grok AI hanyalah alat seperti pena yang hanya mengeksekusi perintah atau promt dari pengguna tanpa menentukan isi perintah. Sebab, Musk mendesain Grok sebagai Maximun Truth-Seeking AI atau AI pencari kebenaran maksimal yang tidak menghindari topik kontroversial atau sensitif. Grok diposisikan untuk menjawab pertanyaan yang ditolak AI lain, termasuk konten bersifat provokatif dan tidak sopan.

xAI secara terbuka menolak pendekatan woke AI yang dianggap Musk menyimpang fakta demi politik yang benar. Mereka menyatakan, “kami ingin AI yang mencari kebenaran, bahkan jika kebenaran itu tidak nyaman”. Grok dirancang untuk tidak melakukan self-censorship atau pembatasan manual atas nama sensitivitas budaya atau politik.

Namun, para penegak hukum berpendapat bahwa platform dan pengembang AI harus bertanggungjawab pula, dan tidak hanya serta merta pengguna saja. Sistem AI tidak sekadar mengeksekusi perintah seperti pena, melainkan pengembang AI tersebut turut ikut menciptakan bahasa pemograman yang dirancang saat pengguna membuat perintah.

Untuk sementara xAI telah membatasi fitur pembuatan gambar Grok hanya untuk pengguna berbayar sebagai respons terhadap pengguna tak senonoh. Begitupun dengan Menteri Komdigi Meutya Hafid menyatakan bahwa penyalahgunaan Grok untuk membuat konten seksual non-konsensual (deepfake pornografi) melanggar hak asasi manusia, merendahkan martabat korban, dan mengancam keamanan ruang digital nasional. Pemerintah menuntut klarifikasi dan tanggung jawab dari X sebagai pengelola platform, dengan ancaman blokir permanen jika tidak ada perbaikan.(WA)