DRADIO.ID – Perunggu dikenal sebagai salah satu band dengan konsep yang cukup unik di industri musik Indonesia. Trio yang beranggotakan Maul Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman ini dikenal luas karena mampu menjaga keseimbangan antara karier profesional dan aktivitas bermusik.
Di tengah berkembangnya industri musik yang menuntut konsistensi dan waktu penuh, Perunggu hadir dengan pendekatan yang berbeda. Mereka tidak meninggalkan pekerjaan utama demi fokus sepenuhnya di dunia hiburan, tetapi memilih menjalani keduanya secara bersamaan.
Karena gaya hidup dan ritme kerja tersebut, Perunggu kemudian mendapat julukan “Band Pulang Kantor.” Julukan ini muncul dari kebiasaan para personelnya yang menjalani aktivitas kantor lebih dulu sebelum berkumpul untuk latihan, menciptakan lagu, hingga tampil di berbagai panggung musik.
Maul Ibrahim yang menjadi vokalis sekaligus gitaris diketahui juga memiliki karier profesional di dunia korporasi. Ia menjabat sebagai Head of Product di [PT Bank Neo Commerce] dan tetap aktif menjalankan perannya di perusahaan di tengah agenda bermusik yang semakin padat.
Sementara itu, Ildo Hasman yang mengisi posisi drummer dan vokal latar juga tetap menjalani pekerjaan profesional di luar dunia hiburan. Bersama Adam Adenan, mereka membangun pola kerja yang memungkinkan aktivitas musik dan pekerjaan tetap berjalan beriringan.
Bagi Perunggu, musik bukan sekadar aktivitas sampingan, tetapi ruang untuk menyalurkan kreativitas dan mengekspresikan pengalaman hidup sehari-hari. Pengalaman sebagai pekerja kantoran juga menjadi salah satu sumber inspirasi dalam proses penciptaan karya mereka.
Lirik-lirik yang dibawakan Perunggu kerap terasa dekat dengan pendengarnya karena mengangkat realitas kehidupan anak muda, pekerja, hingga dinamika fase dewasa. Pendekatan tersebut membuat karya mereka mudah diterima dan relevan bagi banyak orang.
Kehadiran Perunggu juga menunjukkan bahwa dunia musik tidak selalu harus dijalani dengan meninggalkan profesi utama. Mereka menjadi contoh bahwa kreativitas tetap dapat berkembang meski di tengah jadwal kerja yang padat.
Perjalanan mereka membangun band dilakukan secara bertahap. Setelah menyelesaikan pekerjaan harian, para personel biasanya memanfaatkan waktu untuk latihan, berdiskusi konsep, hingga mempersiapkan penampilan.
Konsistensi tersebut perlahan membawa Perunggu mendapatkan perhatian yang lebih luas di skena musik Indonesia. Nama mereka semakin dikenal melalui karya-karya yang dianggap merepresentasikan pengalaman generasi pekerja masa kini.
Identitas sebagai “Band Pulang Kantor” pun bukan hanya menjadi julukan semata, tetapi telah berkembang menjadi karakter yang melekat pada perjalanan mereka. Julukan itu mencerminkan semangat untuk tetap berkarya tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional.
Dengan pendekatan yang sederhana namun konsisten, Perunggu berhasil membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk menghasilkan karya dan membangun eksistensi di industri musik Indonesia.(ADR)












