DRADIO.ID – Hasil survei terbaru yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 29 Juli 2026 menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam peta elektabilitas tokoh nasional. Dalam survei tersebut, tingkat keterpilihan Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan dan berada di bawah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam simulasi semi terbuka yang memuat 20 nama calon presiden, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas tertinggi sebesar 35 persen. Angka tersebut unggul cukup jauh dibandingkan Presiden Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan perolehan 14,5 persen.
Posisi ketiga ditempati mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan elektabilitas 8,2 persen. Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di urutan keempat dengan dukungan sebesar 7,7 persen.
Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh elektabilitas 4,9 persen. Di bawahnya terdapat Ganjar Pranowo dengan 4,2 persen, disusul Mahfud MD yang meraih dukungan sebesar 4 persen.
SMRC juga mencatat masih terdapat 12,8 persen responden yang belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban. Angka tersebut menunjukkan bahwa peta dukungan politik menuju Pemilihan Presiden 2029 masih sangat dinamis dan berpotensi mengalami perubahan.
Pengumpulan data survei dilakukan pada 5 hingga 19 Juli 2026 dengan mengombinasikan metode wawancara melalui telepon dan wawancara tatap muka. Pendekatan ini digunakan untuk menjangkau responden yang memiliki maupun tidak memiliki akses terhadap telepon seluler.
Survei melibatkan 749 responden yang memiliki hak pilih, yakni warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 605 responden yang memiliki telepon seluler diwawancarai melalui metode double sampling.
Sementara itu, sebanyak 144 responden yang tidak memiliki telepon seluler diwawancarai secara langsung menggunakan metode stratified multistage random sampling. Dengan metode tersebut, SMRC menyatakan survei memiliki margin of error sekitar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei ini menjadi salah satu gambaran awal mengenai dinamika politik nasional menjelang kontestasi Pemilihan Presiden 2029. Meski demikian, sejumlah lembaga survei sebelumnya juga mengingatkan bahwa tingkat elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan kondisi politik, ekonomi, serta kinerja para tokoh di mata publik.
Dalam beberapa bulan terakhir, nama Dedi Mulyadi memang menjadi salah satu figur yang paling banyak mendapat perhatian publik. Aktivitasnya di media sosial, pendekatan langsung kepada masyarakat, serta berbagai program yang dijalankan di Jawa Barat dinilai turut meningkatkan tingkat popularitas dan kedekatan dengan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pelaksanaan program-program prioritas nasional, penguatan pertumbuhan ekonomi, hingga menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Berbagai kebijakan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir juga menjadi sorotan publik dan diperkirakan akan terus memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.
Meski demikian, hasil survei SMRC ini tidak dapat diartikan sebagai prediksi pasti hasil Pemilihan Presiden 2029. Survei hanya menggambarkan preferensi publik pada saat pengambilan data dilakukan. Dengan waktu pemilu yang masih cukup panjang, peta elektabilitas para tokoh nasional masih sangat mungkin berubah seiring dinamika politik dan perkembangan isu-isu nasional di masa mendatang.(ADR)


