Slayla Rilis Parjolo, Perpaduan Rap Batak Toba, Indonesia, dan Inggris

Single Terbaru Slayla Parjolo

dradio.id – Rapper Indonesia, Slayla, menghadirkan warna baru dalam musik hip-hop melalui single terbarunya berjudul Parjolo. Lagu yang resmi dirilis pada 16 Oktober 2026 ini memadukan tiga bahasa, yakni Batak Toba, Indonesia, dan Inggris.

Perpaduan bahasa tersebut menjadi daya tarik utama Parjolo. Slayla tidak hanya mengandalkan permainan kata dan irama rap modern, tetapi juga membawa identitas budaya Batak Toba ke dalam karyanya.

Sebelum resmi dirilis, potongan lagu ini telah menarik perhatian di media sosial. Konsep yang memadukan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia dan Inggris membuat Parjolo menjadi salah satu karya yang menarik untuk disimak oleh pencinta musik hip-hop Indonesia.

Dikutip dari Apple Music, Parjolo dirilis sebagai single bergenre alternative rap pada 16 Oktober 2026 melalui label HAHI Records. Lagu tersebut memiliki durasi sekitar dua menit.

Keunikan Parjolo sudah terasa sejak bagian pembuka. Slayla menggunakan sapaan khas Batak, “Horas ma hita!”, sebelum melanjutkan lirik dengan bahasa Inggris.

Dalam penggalan liriknya, Slayla juga menampilkan identitasnya melalui kalimat yang merujuk pada asal-usul Batak Toba.

Perpindahan dari bahasa Batak ke bahasa Indonesia dan Inggris memberikan karakter tersendiri pada lagu tersebut. Perpaduan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana bahasa daerah dapat digunakan dalam musik modern tanpa harus kehilangan identitasnya.

Judul Parjolo juga menjadi bagian penting dalam lirik. Kata tersebut berasal dari bahasa Batak yang dapat dimaknai sebagai pertama atau yang terdahulu, sesuai konteks penggunaannya.

Penggunaan bahasa daerah dalam musik populer menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada pendengar yang lebih luas.

Melalui Parjolo, Slayla menggabungkan unsur budaya Batak Toba dengan gaya hip-hop kontemporer. Pendekatan tersebut membuat bahasa daerah hadir dalam kemasan musik yang dekat dengan perkembangan tren musik masa kini.

Penggunaan tiga bahasa juga membuka ruang bagi pendengar dari latar belakang berbeda untuk menikmati karya tersebut, meskipun tidak semua pendengar memahami bahasa Batak.

Namun, daya tarik sebuah lagu tidak hanya ditentukan oleh penggunaan bahasa. Aransemen, karakter vokal, pesan lirik, dan respons pendengar juga menjadi faktor yang memengaruhi penerimaan sebuah karya.

Karena itu, perkembangan Parjolo di platform musik digital dan media sosial dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat sejauh mana karya tersebut menjangkau pendengar.

Sebelum merilis Parjolo, Slayla telah memiliki sejumlah karya dalam genre hip-hop dan rap.

Katalog musiknya di Apple Music mencatat beberapa single terdahulu, di antaranya PAPER yang dirilis pada 2024 serta STAMINA dan THAT’S MY ATTITUDE yang tercatat pada 2025.

Kehadiran Parjolo memperlihatkan eksplorasi Slayla dalam mengolah karakter musiknya dengan memasukkan unsur bahasa dan identitas budaya daerah.

Dengan memadukan bahasa Batak Toba, Indonesia, dan Inggris, Slayla menghadirkan pendekatan berbeda dalam musik rap. Karya ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas lokal dapat menjadi bagian dari ekspresi musik modern.

Ke depan, menarik untuk melihat bagaimana Parjolo diterima oleh pendengar, khususnya masyarakat Batak dan pencinta hip-hop Indonesia, serta apakah pendekatan serupa akan kembali digunakan Slayla dalam karya-karya berikutnya.(ADR)