DRADIO.ID – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkapkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan pinjaman daring (pinjaman online/pinjol). Berdasarkan data yang dimiliki AFPI, setiap hari terdapat sekitar 2 juta hingga 4 juta pengajuan pinjaman yang masuk melalui platform fintech lending di Indonesia.
Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, menjelaskan bahwa angka tersebut dipantau hampir secara real-time melalui Fintech Data Center, sistem pusat data industri fintech yang berfungsi serupa dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), namun memiliki pembaruan data yang berlangsung secara daring dan lebih cepat.
“Jadi, Fintech Data Center adalah kumpulan data industri yang fungsinya mirip dengan SLIK, tetapi sistem kami berbasis online dan hampir real-time. Setiap hari ada minimal 2 juta hingga 4 juta orang yang mengajukan pinjaman, baik peminjam lama yang kembali mengajukan kredit maupun peminjam baru,” ujar Entjik dalam seminar daring, dikutip Jumat (03/07/2026).
Menurut Entjik, tingginya jumlah pengajuan pinjaman mencerminkan masih besarnya kesenjangan pembiayaan (credit gap) di Indonesia, terutama pada sektor usaha ultra mikro yang membutuhkan akses modal secara cepat dan mudah.
Ia mengatakan, mayoritas pengguna layanan fintech lending merupakan pelaku usaha rumahan dan usaha mikro yang membutuhkan pinjaman dalam nominal relatif kecil untuk mendukung aktivitas usahanya.
“Kami banyak melayani pelaku usaha ultra mikro. Mereka umumnya hanya membutuhkan pinjaman sekitar Rp3 juta hingga Rp6 juta. Meski nominalnya kecil, jumlah pengajunya mencapai jutaan orang setiap hari. Inilah pasar utama fintech lending saat ini,” jelasnya.
Dana pinjaman tersebut umumnya dimanfaatkan sebagai tambahan modal usaha, pembelian bahan baku, biaya operasional, hingga kebutuhan distribusi produk bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro.
Di sisi lain, Entjik mengungkapkan bahwa struktur pendanaan industri fintech lending juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya sekitar 70 hingga 80 persen dana berasal dari investor asing, seperti Singapura, China, negara-negara Eropa, Rusia, dan India, kini perbankan nasional mulai mendominasi sebagai penyedia dana (lender).
“Dari total outstanding pendanaan sekitar Rp115 triliun, sekitar Rp60 triliun di antaranya berasal dari bank. Artinya, saat ini kami banyak berkolaborasi dengan sektor perbankan,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui kolaborasi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi integrasi teknologi. Menurutnya, belum seluruh bank telah terhubung melalui sistem Application Programming Interface (API) yang dibutuhkan untuk mempercepat proses penyaluran pendanaan.
“Masih ada beberapa bank yang belum terkoneksi melalui API, sehingga proses kolaborasi dan penyaluran dana belum dapat berjalan secara optimal. Ke depan, integrasi teknologi ini menjadi salah satu hal yang perlu terus diperkuat,” pungkasnya.(ADR)
