DRADIO.ID – Setelah sempat dianggap menjauh dari lagu-lagu kritik sosial yang membesarkan namanya, band legendaris Indonesia, Slank, kembali menggebrak industri musik Tanah Air. Melalui single terbaru berjudul Rusak Ancur, mereka melontarkan kritik keras terhadap kerusakan lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Lagu yang menjadi bagian dari album Republik Fufufafa tersebut langsung menarik perhatian publik sejak dirilis. Banyak penggemar menilai karya terbaru ini sebagai tanda bahwa Slank telah kembali menemukan identitas lamanya sebagai band yang berani menyuarakan keresahan masyarakat.
Ditulis oleh Bimbim, “Rusak Ancur” hadir tanpa kompromi. Liriknya menyentil praktik eksploitasi alam yang dianggap semakin brutal, sementara masyarakat harus menanggung berbagai dampak dari kerusakan yang ditinggalkan.
Dibalut musik rock yang keras dan lugas, Slank seolah ingin menegaskan bahwa mereka belum kehilangan keberanian untuk berbicara lantang di tengah berbagai persoalan bangsa.
Tak butuh waktu lama, video musik “Rusak Ancur” langsung dibanjiri komentar dari para Slankers. Banyak penggemar mengaku merinding karena merasa kembali mendengar sosok Slank yang selama ini dikenal kritis terhadap isu sosial, politik, maupun lingkungan hidup.
Dukungan pun datang dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Donggala, Jepara, Lombok, Pekanbaru, Garut, Karawang, hingga komunitas Slankers di Finlandia.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa pesan yang dibawa lagu ini berhasil menyentuh basis penggemar yang selama ini merindukan karya-karya penuh kritik dari band asal Jakarta tersebut.
Tak hanya menuai pujian, “Rusak Ancur” juga memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak pendengar menilai isi lagu tersebut sangat relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang terjadi belakangan ini.
Mulai dari kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang dinilai semakin sulit dikendalikan. Salah satu komentar yang ramai diperbincangkan bahkan berbunyi, “Kalau Slank sudah bersuara, berarti negara sedang tidak baik-baik saja.”
Pernyataan tersebut mengingatkan publik pada sejarah panjang Slank sebagai kelompok musik yang kerap menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial serta berbagai kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.
Pertama Kali Menggunakan AI
Tak hanya lagunya yang mencuri perhatian, video musik “Rusak Ancur” juga menjadi sorotan tersendiri. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan karier mereka, Slank menggabungkan rekaman video nyata dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hasilnya adalah visual bernuansa distopia yang menampilkan gambaran alam yang rusak, kota-kota yang hancur, serta suasana suram yang memperkuat pesan utama lagu tersebut.
Eksperimen ini menuai beragam respons. Sebagian penonton memperdebatkan kualitas visual AI yang digunakan, namun mayoritas menilai teknologi tersebut berhasil mempertegas pesan mengenai ancaman serius yang dapat terjadi apabila kerusakan lingkungan terus dibiarkan.
Di tengah dominasi lagu-lagu bertema percintaan dan kisah personal di industri musik, kehadiran “Rusak Ancur” terasa seperti alarm keras yang dibunyikan dari panggung musik nasional. Single ini menunjukkan bahwa Slank masih memiliki keberanian untuk mengangkat isu-isu besar yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Secara musikal, lagu tersebut mungkin tidak menawarkan revolusi baru. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat pesannya terasa menghantam langsung kepada pendengar.
“Rusak Ancur” terdengar seperti Slank yang selama ini dikenal publik: keras, lugas, tanpa basa-basi, serta tidak takut mengusik kenyamanan.
Dengan respons yang terus mengalir dari penggemar serta perdebatan yang berkembang di media sosial, “Rusak Ancur” berpeluang menjadi salah satu rilisan Slank yang paling banyak diperbincangkan sepanjang 2026. Bagi banyak Slankers, lagu ini bukan sekadar karya baru, melainkan penanda bahwa suara kritis Slank belum mati.(ADR)












