Dino Patti Djalal: Prabowo Habiskan 1 dari 6 Hari di Luar Negeri, Sampaikan Lima Saran

Para peserta Batch 2 kelas akhir pekan akan melakukan siaran langsung hari ini pukul 14.00. Yuk, bergabung bersama kami! 😊 HOI LIVE IN COLLABORATION WITH INDONESIANA.TV & HOI JAMBI (PART 2) Link: Sumber Poto : Instagram @dinopattidjalal

DRADIO.ID – Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan lima saran kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kritik publik mengenai frekuensi perjalanan luar negeri yang dinilai cukup tinggi.

Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, Dino mengatakan banyak masyarakat Indonesia meminta Presiden Prabowo secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh aspirasi publik terkait persoalan tersebut.

“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri,” kata Dino.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu mencatat, selama menjabat sebagai presiden, Prabowo menghabiskan satu dari setiap enam hari masa kerjanya di luar negeri. Karena itu, menurutnya, tidak mengherankan apabila muncul anggapan bahwa frekuensi perjalanan dinas tersebut tergolong tidak lazim. Ia juga memperkirakan dalam 18 bulan ke depan Presiden Prabowo akan terus melakukan kunjungan internasional dengan intensitas yang sama.

“Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar,” ujar Dino.

Menurutnya, biaya tersebut mencakup kebutuhan tim pendahulu, transportasi udara, akomodasi hotel, logistik, konsumsi, protokoler, pengamanan, uang harian delegasi, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Dino menyebut satu perjalanan luar negeri dapat menelan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

Atas dasar itu, Dino menyampaikan lima saran kepada Presiden Prabowo. Pertama, untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia, ia menyarankan agar Presiden lebih banyak memanfaatkan fasilitas video call, Zoom call, atau telepon.

“Pengalaman saya, suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam, dan selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu,” ujarnya.

Dino menilai penggunaan video call dapat menghemat anggaran negara hingga ratusan miliar rupiah dengan hasil substansi yang relatif sama. Selain itu, langkah tersebut juga dapat menjawab persepsi masyarakat yang menganggap perjalanan luar negeri Presiden cenderung boros dan lebih bersifat seremonial.

Sebagai contoh, Dino menyebut Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang telah 17 kali melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tanpa pernah menggelar pertemuan bilateral secara langsung, meskipun Amerika Serikat merupakan mitra dagang terbesar Meksiko.

“Dan dalam suatu kunjungan kerja ke Spanyol, Presiden Sheinbaum bahkan terbang menaiki pesawat komersial kelas ekonomi untuk memberikan teladan kepada rakyatnya bahwa penghematan yang diserukannya pada seluruh pemerintahannya juga berlaku bagi presiden,” katanya.

Saran kedua adalah memaksimalkan kunjungan ke forum internasional dengan mengagendakan pertemuan bersama sejumlah kepala negara yang hadir dalam forum tersebut. Dino mencontohkan, saat Sidang Umum PBB di New York tahun lalu, Presiden Finlandia Alexander Stubb disebut meminta waktu untuk bertemu Presiden Prabowo, namun permintaan tersebut tidak mendapat respons.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, baru-baru ini, permintaan pertemuan bilateral dari salah satu kepala pemerintahan negara ASEAN juga tidak direspons. Dino mengaku tidak mengetahui alasan di balik tidak adanya respons tersebut.

“Kami menyarankan istana menerapkan Formula 1 plus 8, yaitu dalam menghadiri forum internasional, misalnya ke Davos, atau PBB di New York, atau ASEAN, atau G20, dan lain sebagainya, sembari menyampaikan pidato, Presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir,” kata Dino.

Menurutnya, angka delapan dipilih karena merupakan angka yang disukai Presiden Prabowo.

Saran ketiga, Dino berharap kunjungan internasional Presiden dilakukan secara lebih profesional dan