Pendampingan Self-Healing Berbasis AI secara Aman dan Etis, Dosen BK Universitas Jambi Bekali Siswa SMPN 30 Muaro Jambi Literasi Digital dan Kesehatan Mental

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Jambi menggelar kegiatan bertajuk "Pendampingan Self-Healing Berbasis AI secara Aman dan Etis pada Siswa SMP Negeri 30 Muaro Jambi", Senin (20/07/2026).

DRADIO.ID – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) membawa berbagai peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Menjawab kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Jambi menggelar kegiatan bertajuk “Pendampingan Self-Healing Berbasis AI secara Aman dan Etis pada Siswa SMP Negeri 30 Muaro Jambi”, Senin (20/07/2026). Kegiatan ini bertujuan membekali peserta didik agar mampu memanfaatkan AI secara bijaksana tanpa mengabaikan aspek kesehatan mental, etika, dan keamanan digital.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian, Muhammad Alridho Lubis, M.Pd., bersama anggota tim yang terdiri atas Hj. Dinny Rahmayanty, M.Pd., Dr. Ninil Elfira, M.Pd., Desy Susanti, M.Pd., dan Utami Niki Kusaini, M.Pd. Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi muda.

Sebanyak 30 siswa dan siswi SMP Negeri 30 Muaro Jambi mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Selama pelaksanaan, peserta didampingi oleh Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 30 Muaro Jambi, Candra Arizona, sehingga setiap sesi diskusi maupun praktik dapat berlangsung lebih interaktif dan memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi di era digital.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Negeri 30 Muaro Jambi, Ahdiani, S.Pd. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kehadiran tim dosen Universitas Jambi yang telah memilih sekolah tersebut sebagai lokasi pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, tema mengenai AI dan kesehatan mental sangat relevan dengan kehidupan peserta didik saat ini.

“Anak-anak sekarang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Karena itu mereka perlu dibekali kemampuan menggunakan AI secara bijak, memahami batasannya, sekaligus menjaga kesehatan mental mereka. Kami mengucapkan terima kasih kepada tim dosen Universitas Jambi yang telah menghadirkan edukasi yang sangat bermanfaat ini. Semoga kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut,” ujar Ahdiani, S.Pd.

Dalam kegiatan tersebut, para dosen menyampaikan materi mengenai konsep self-healing sebagai proses mengenali dan mengelola emosi secara sehat. Peserta juga dikenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan AI sebagai media refleksi diri, seperti membuat jurnal emosi, latihan afirmasi positif, menyusun rencana pengembangan diri, hingga membantu mengelola stres ringan. Namun, tim pengabdian menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu dan bukan pengganti peran guru BK, orang tua, maupun tenaga profesional ketika seseorang mengalami gangguan psikologis yang membutuhkan penanganan khusus.

Selain penyampaian materi, peserta mengikuti praktik langsung menggunakan aplikasi AI dengan pendekatan yang aman dan etis. Mereka belajar menyusun prompt yang tepat, mengenali informasi yang dapat dan tidak boleh dibagikan kepada AI, memahami pentingnya menjaga privasi data pribadi, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam memverifikasi informasi yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.

Salah seorang peserta, Zikrullah, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, selama ini ia hanya mengenal AI sebagai alat untuk membantu mengerjakan tugas sekolah. Setelah mengikuti pelatihan, ia memahami bahwa AI juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali kondisi emosi, selama digunakan secara benar.

“Saya senang mengikuti kegiatan ini karena materinya mudah dipahami. Saya jadi tahu kalau AI bukan hanya untuk mencari jawaban tugas, tetapi juga bisa membantu kita mengenali perasaan dan menyusun motivasi diri. Yang paling penting, kami diajarkan untuk tidak sembarangan memberikan data pribadi kepada AI,” ungkap Zikrullah.

Sementara itu, Guru BK SMP Negeri 30 Muaro Jambi, Candra Arizona, menilai kegiatan tersebut menjadi inovasi baru dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Menurutnya, edukasi mengenai AI perlu diberikan sejak dini agar siswa memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara positif dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

“Kami melihat siswa sangat antusias mengikuti setiap sesi. Materi yang diberikan sangat aplikatif dan dapat menjadi bekal bagi kami dalam mengembangkan layanan BK berbasis perkembangan teknologi. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga semakin banyak siswa yang memperoleh manfaat,” katanya.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Muhammad Alridho Lubis, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada pihak SMP Negeri 30 Muaro Jambi atas dukungan yang diberikan sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Wakil Kepala Sekolah, Guru BK, serta seluruh siswa yang telah berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar SMP Negeri 30 Muaro Jambi atas sambutan yang sangat baik. Antusiasme para siswa menunjukkan bahwa mereka memiliki keinginan besar untuk belajar memanfaatkan AI secara positif. Harapan kami, ilmu yang diperoleh hari ini dapat menjadi bekal agar siswa mampu menggunakan kecerdasan buatan secara aman, etis, bertanggung jawab, sekaligus tetap mengutamakan kesehatan mental dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Muhammad Alridho Lubis.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Jambi berharap sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat terus diperkuat dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan literasi AI yang baik serta kesadaran menjaga kesehatan mental sejak usia sekolah, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, empati, serta tanggung jawab sosial yang kuat.(ADR)