Pengaruh Teknologi, Jumlah Kata yang Diucapkan Manusia Terus Menurun

DRADIO.ID – Cara manusia berkomunikasi ternyata ikut berubah seiring perkembangan teknologi. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa jumlah kata yang diucapkan seseorang setiap hari mengalami penurunan selama lebih dari satu dekade.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science pada Maret 2026 tersebut menemukan bahwa jumlah kata yang diucapkan seseorang diperkirakan berkurang rata-rata sekitar 338 kata per hari setiap tahunnya.

Temuan itu berasal dari penelitian Matthias Mehl, profesor psikologi di University of Arizona, bersama Valeria Pfeifer, asisten profesor psikologi dan konseling di University of Missouri-Kansas City.

Awalnya, para peneliti tidak bermaksud meneliti perubahan kebiasaan berbicara manusia. Mereka hendak mengulang penelitian Mehl pada 2007 yang membahas perbedaan jumlah kata yang diucapkan laki-laki dan perempuan.

Namun, ketika menganalisis data dari sekitar 2.200 peserta dalam 22 studi, para peneliti menemukan pola yang tidak mereka duga sebelumnya, yakni adanya penurunan jumlah kata yang diucapkan dari waktu ke waktu.

Penelitian Mehl pada 2007 memperkirakan seseorang mengucapkan rata-rata sekitar 15.900 kata per hari. Sementara itu, analisis terbaru menghasilkan estimasi sekitar 12.700 kata per hari.

“Saya mengatakan kepadanya pasti ada kesalahan. Namun, dia memeriksa kembali semuanya dan angkanya tetap sama. Sesuatu memang benar-benar berubah,” kata Mehl, dikutip dari Phys.

Para peneliti kemudian menganalisis data dari 22 studi yang dilakukan antara 2005 hingga 2019. Hasilnya menunjukkan tren penurunan jumlah kata yang diucapkan secara konsisten selama periode tersebut.

Pada 2005, seseorang diperkirakan mengucapkan sekitar 16.000 kata setiap hari. Angka tersebut turun menjadi sekitar 12.700 kata per hari pada 2019.

Secara rata-rata, estimasi jumlah kata yang diucapkan berkurang sekitar 338 kata per hari untuk setiap tahun pengamatan. Jika dihitung secara akumulatif, selisih tersebut setara dengan lebih dari 120.000 kata dalam setahun.

Para peneliti menduga perubahan teknologi dan pola interaksi sosial menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan tersebut. Smartphone dan media sosial memungkinkan manusia berkomunikasi tanpa harus melakukan percakapan secara langsung.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa teknologi merupakan satu-satunya penyebab berkurangnya jumlah kata yang diucapkan.

Ketika peserta penelitian dibagi berdasarkan usia, kelompok berusia di bawah 25 tahun menunjukkan penurunan yang lebih tajam, yakni sekitar 452 kata per tahun. Sementara kelompok berusia 25 tahun ke atas mengalami penurunan sekitar 314 kata per tahun.

Menurut Mehl, penurunan pada kelompok usia yang lebih tua menunjukkan bahwa perubahan tersebut kemungkinan bukan hanya persoalan generasi muda, tetapi juga bagian dari perubahan sosial yang lebih luas.

Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkurangnya percakapan kecil yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Teknologi memungkinkan berbagai aktivitas dilakukan tanpa harus banyak berbicara dengan orang lain. Mesin pembayaran mandiri, navigasi GPS, hingga kios pemesanan dengan layar sentuh dapat menggantikan sejumlah interaksi yang sebelumnya melibatkan manusia.

Seseorang kini dapat membayar barang tanpa berbicara dengan kasir, menemukan lokasi tanpa bertanya kepada orang lain, atau memesan makanan melalui layar tanpa harus berinteraksi dengan petugas.

Meski tampak sederhana, interaksi-interaksi kecil tersebut sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas sosial sehari-hari.

Namun, para peneliti menekankan bahwa penelitian tersebut belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan teknologi dan menurunnya jumlah kata yang diucapkan.

Komunikasi melalui pesan teks dan media sosial juga mungkin menggantikan sebagian percakapan verbal. Dengan demikian, jumlah komunikasi yang dilakukan manusia melalui seluruh saluran belum tentu mengalami penurunan.

Menurut Mehl, seseorang mungkin berbicara lebih sedikit secara langsung, tetapi pada saat yang sama menghabiskan lebih banyak waktu berkomunikasi melalui pesan teks, media sosial, atau bentuk komunikasi digital lainnya.

Meski demikian, komunikasi tertulis tidak sepenuhnya dapat menggantikan percakapan langsung.

Percakapan verbal memiliki unsur kehadiran, intonasi, spontanitas, serta respons langsung yang berbeda dari komunikasi melalui teks.

Penelitian tersebut juga belum dapat memastikan apakah orang yang lebih banyak berkirim pesan tetapi lebih sedikit berbicara secara langsung memiliki kondisi sosial yang lebih baik atau justru lebih buruk.

Mehl mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh masyarakat dunia.

Pasalnya, data penelitian berasal dari masyarakat Barat yang cenderung individualistis, terutama Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Selain itu, data yang dianalisis hanya mencakup periode hingga 2019. Artinya, penelitian tersebut belum menggambarkan perubahan kebiasaan komunikasi yang mungkin terjadi setelah pandemi Covid-19, ketika penggunaan komunikasi digital meningkat pesat.

Penurunan ratusan kata per hari juga tidak berarti seseorang kehilangan satu percakapan panjang setiap harinya.

Menurut Mehl, penurunan tersebut kemungkinan tersebar dalam berbagai interaksi singkat yang semakin jarang terjadi.

Percakapan dengan kasir, berbincang dengan tetangga, menyapa orang lain, atau bertanya arah kepada orang asing mungkin hanya berlangsung beberapa detik atau menit.

Namun, jika berbagai interaksi kecil tersebut berkurang setiap hari, akumulasinya dapat menjadi perubahan yang cukup besar dalam pola komunikasi manusia.

Temuan tersebut pada akhirnya tidak menunjukkan bahwa teknologi membuat manusia berhenti berbicara. Sebaliknya, teknologi tampaknya ikut mengubah kapan, bagaimana, dan dengan siapa manusia berkomunikasi.

Manusia kini memiliki lebih banyak pilihan untuk berkomunikasi tanpa harus bertemu atau berbicara secara langsung.

Di satu sisi, perubahan tersebut membuat komunikasi menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, di sisi lain, berkurangnya interaksi tatap muka juga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana perubahan tersebut akan memengaruhi hubungan sosial manusia dalam jangka panjang.

Karena itu, berkurangnya jumlah kata yang diucapkan tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa manusia semakin tidak komunikatif.

Yang berubah mungkin bukan kebutuhan manusia untuk berkomunikasi, melainkan cara manusia melakukannya.

Di tengah semakin kuatnya ketergantungan terhadap smartphone, media sosial, dan berbagai layanan otomatis, percakapan sederhana yang dulu dianggap sepele justru bisa menjadi bagian penting dari kehidupan sosial yang perlahan menghilang.(ADR)