Bukan Sekadar Hewan Peliharaan, Ini 7 Negara yang Menghormati Kucing karena Sejarah dan Kepercayaan

Ini 7 Negara yang Menghormati Kucing karena Sejarah dan Kepercayaan

DRADIO.ID – Kucing dikenal sebagai salah satu hewan peliharaan yang populer di berbagai belahan dunia. Namun, hubungan manusia dengan hewan berbulu ini ternyata tidak hanya sebatas sebagai teman di rumah.

Dalam sejumlah kebudayaan, kucing memiliki kedudukan istimewa karena berkaitan dengan kepercayaan spiritual, cerita rakyat, hingga sejarah kerajaan.

Di Mesir kuno, misalnya, kucing memiliki hubungan erat dengan kepercayaan terhadap dewa-dewi. Sementara itu, di Jepang, kucing identik dengan simbol keberuntungan dan kemakmuran.

Meski demikian, tidak semua masyarakat menganggap kucing sebagai hewan suci. Di beberapa negara, penghormatan terhadap kucing lebih berkaitan dengan tradisi, simbol budaya, atau peran praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut tujuh negara dan lingkungan budaya yang memiliki hubungan istimewa dengan kucing.

  1. Mesir, Kucing Berkaitan dengan Kepercayaan terhadap Dewa

Mesir menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang kedudukan istimewa kucing dalam sejarah peradaban manusia.

Pada masa Mesir kuno, kucing dikaitkan dengan Bastet, dewi yang diasosiasikan dengan perlindungan dan kemakmuran. Bastet kerap digambarkan sebagai perempuan berkepala kucing atau dalam wujud kucing.

Kedudukan tersebut membuat kucing memiliki arti penting dalam kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Mesir kuno.

Bukti sejarah mengenai penghormatan terhadap kucing dapat ditemukan melalui berbagai patung, artefak, peti pemakaman, dan mumi kucing yang masih tersimpan di museum.

Menurut Smithsonian Institution, masyarakat Mesir kuno mengaitkan kucing dengan dunia dewa-dewi. Kucing juga dimumikan dan ditempatkan dalam peti khusus sebagai bagian dari praktik keagamaan.

Namun, praktik tersebut tidak berarti seluruh kucing diperlakukan dengan cara yang sama. Hubungan masyarakat Mesir kuno dengan kucing mencakup berbagai aspek, mulai dari hewan peliharaan hingga simbol keagamaan.

Warisan sejarah itu menjadikan Mesir salah satu tempat paling penting untuk memahami bagaimana kucing memperoleh kedudukan khusus dalam kebudayaan manusia.

  1. Jepang, Kucing Identik dengan Keberuntungan

Di Jepang, kucing dikenal melalui simbol maneki-neko, yakni patung kucing dengan satu kaki depan terangkat.

Patung ini banyak ditemukan di toko, restoran, dan tempat usaha. Dalam kepercayaan populer Jepang, maneki-neko menjadi simbol yang diasosiasikan dengan keberuntungan, kemakmuran, dan datangnya pelanggan.

Kucing juga memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Jepang melalui keberadaan pulau-pulau yang dihuni banyak kucing.

Salah satunya adalah Tashirojima, sebuah pulau di Prefektur Miyagi yang dikenal sebagai Pulau Kucing.

Menurut Japan National Tourism Organization, kucing awalnya dipelihara di pulau tersebut untuk membantu melindungi kepompong ulat sutra dari tikus. Nelayan setempat juga terbiasa memberi makan kucing dengan sisa hasil tangkapan mereka.

Seiring waktu, keberadaan kucing menjadi bagian dari identitas pulau tersebut dan menarik perhatian wisatawan.

Kucing di Jepang tidak secara umum dipuja sebagai dewa. Namun, kedudukannya dalam simbol budaya dan tradisi masyarakat membuat hewan ini memiliki tempat istimewa.

  1. Turki, Kucing Menjadi Bagian dari Kehidupan Kota

Turki, terutama Istanbul, dikenal dengan keberadaan kucing yang hidup berdampingan dengan masyarakat.

Di sejumlah sudut kota, kucing dapat ditemukan di jalanan, taman, kawasan pertokoan, hingga sekitar bangunan bersejarah.

Sebagian warga menyediakan makanan dan air untuk kucing jalanan. Ada pula masyarakat yang membantu menyediakan tempat berlindung bagi hewan tersebut.

Hubungan masyarakat Turki dengan kucing turut dipengaruhi oleh tradisi dan nilai budaya yang berkembang selama berabad-abad.

Dalam lingkungan masyarakat Muslim, kucing juga kerap diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Namun, perlu dipahami bahwa Islam tidak menetapkan kucing sebagai hewan yang harus disembah atau dipuja.

Kucing dikenal sebagai hewan yang diperbolehkan berada di lingkungan rumah dan memiliki ketentuan kebersihan tersendiri dalam fikih Islam.

Sementara itu, cerita populer mengenai Muezza, kucing yang disebut-sebut sangat disayangi Nabi Muhammad, perlu disikapi secara hati-hati. Kisah tersebut banyak beredar di masyarakat, tetapi tidak memiliki dasar kuat dalam hadis sahih.

Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, keberadaan kucing di Istanbul menunjukkan bagaimana hewan tersebut dapat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat perkotaan.

  1. India, Kucing Muncul dalam Tradisi Keagamaan

Di India, hubungan antara kucing dan kepercayaan masyarakat dapat ditemukan dalam sejumlah tradisi Hindu dan cerita rakyat.

Salah satu tokoh yang berkaitan dengan kucing adalah Dewi Shashthi, yang dalam sejumlah penggambaran tradisional dikaitkan dengan perlindungan anak-anak, kesuburan, dan persalinan.

Dalam beberapa tradisi, Shashthi digambarkan menunggangi kucing atau memiliki hubungan simbolis dengan hewan tersebut.

Kisah-kisah seperti ini memperlihatkan bagaimana hewan dapat memperoleh makna tertentu dalam sistem kepercayaan masyarakat.

Meski demikian, kedudukan kucing dalam tradisi India tidak seragam. India memiliki keragaman agama, bahasa, dan kebudayaan sehingga pandangan masyarakat terhadap kucing juga berbeda-beda.

Karena itu, tidak tepat jika seluruh masyarakat India dianggap memuja kucing atau meyakini bahwa memeliharanya selalu mendatangkan keberuntungan.

Hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi tertentu yang berkembang di tengah masyarakat yang sangat beragam.

  1. Thailand, Kucing Siam Memiliki Sejarah Kerajaan

Thailand juga memiliki sejarah panjang dalam pemeliharaan kucing, terutama ras kucing Siam yang dikenal secara internasional.

Kucing Siam berasal dari kawasan yang kini menjadi Thailand dan memiliki tempat dalam catatan serta tradisi setempat.

Dalam manuskrip tradisional Thailand, terdapat penggambaran berbagai jenis kucing yang dianggap istimewa. Sejumlah ras kucing juga pernah dikaitkan dengan lingkungan kerajaan.

Kucing Siam dikenal karena tubuhnya yang ramping, mata berwarna biru, serta pola warna bulu yang khas.

Selain menjadi hewan peliharaan, kucing tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah dalam perkembangan tradisi pemeliharaan kucing di Thailand.

Namun, cerita bahwa jiwa anggota keluarga kerajaan akan berpindah ke tubuh kucing Siam setelah kematian sebaiknya dipahami sebagai kepercayaan atau legenda tradisional, bukan fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dengan demikian, hubungan Thailand dengan kucing lebih tepat dilihat melalui sejarah ras, manuskrip, dan tradisi kerajaan yang berkembang di wilayah tersebut.

  1. Sejumlah Masyarakat Muslim, Kucing Dikenal sebagai Hewan yang Disayangi

Di berbagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, kucing kerap ditemukan hidup berdampingan dengan manusia, termasuk di lingkungan rumah dan permukiman.

Dalam tradisi Islam, kucing dikenal sebagai hewan yang dapat dipelihara dan tidak dipandang najis secara umum sebagaimana sejumlah ketentuan mengenai anjing dalam fikih.

Dalam hadis sahih riwayat Abu Qatadah yang tercantum dalam Sunan Abu Dawud, terdapat keterangan mengenai kucing sebagai hewan yang sering berada di sekitar manusia. Riwayat tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan fikih mengenai kebersihan kucing.

Ajaran Islam juga menekankan pentingnya memperlakukan hewan dengan baik dan tidak menyakitinya.

Meski demikian, kucing bukanlah hewan yang disembah atau dianggap memiliki kedudukan ketuhanan dalam Islam.

Kasih sayang terhadap kucing lebih tepat dikaitkan dengan ajaran mengenai kebersihan, belas kasih, dan tanggung jawab manusia terhadap makhluk hidup.

Praktik masyarakat di berbagai negara Muslim pun beragam. Tidak semua wilayah memiliki tradisi pemeliharaan atau perlindungan kucing yang sama.

  1. Rusia, Kucing Menjadi Penjaga Museum Bersejarah

Di Rusia, kucing dikenal tidak hanya sebagai hewan peliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah sebuah institusi budaya terkenal, yaitu Museum Hermitage di Saint Petersburg.

Museum tersebut memiliki tradisi memelihara kucing untuk membantu mengendalikan populasi tikus yang berpotensi merusak koleksi dan bangunan.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-18 dan berkaitan dengan sejarah istana yang kemudian menjadi bagian dari kompleks museum.

Keberadaan kucing di Hermitage berkembang menjadi salah satu cerita menarik di balik kehidupan museum.

Kucing-kucing tersebut tidak dianggap suci dalam pengertian agama. Peran utamanya berkaitan dengan perlindungan bangunan dari hewan pengerat.

Seiring waktu, kucing Hermitage juga menjadi bagian dari identitas museum dan menarik perhatian pengunjung.

Kisah ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan kucing tidak selalu didasarkan pada kepercayaan spiritual. Dalam sejumlah kasus, kedekatan tersebut tumbuh karena manfaat praktis yang diberikan kucing selama berabad-abad.

Kucing Memiliki Makna Berbeda di Setiap Kebudayaan

Sejarah kucing di berbagai negara memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan hewan ini berkembang melalui beragam jalur.

Di Mesir kuno, kucing berkaitan dengan kepercayaan terhadap dewa-dewi. Di Jepang, kucing menjadi simbol keberuntungan. Di Turki, kucing merupakan bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan, sedangkan di Rusia, kucing memiliki sejarah panjang sebagai penjaga bangunan dari hewan pengerat.

Sementara itu, India dan Thailand memiliki tradisi yang menghubungkan kucing dengan cerita rakyat, sejarah kerajaan, serta kepercayaan tertentu.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah sakral, suci, dihormati, dan pembawa keberuntungan tidak selalu memiliki makna yang sama.

Sebagian merupakan bagian dari praktik keagamaan, sementara yang lain tumbuh dari kebiasaan masyarakat dan pengalaman hidup selama berabad-abad.

Di tengah kehidupan modern, kucing tetap menjadi salah satu hewan yang dekat dengan manusia. Selain menjadi teman di rumah, keberadaan kucing juga terus hadir dalam karya seni, simbol budaya, sejarah, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.(ADR)