Gen Z Mulai Tinggalkan Konten Hiburan, Kini Lebih Tertarik Edukasi dan Keahlian

DRADIO.ID – Preferensi Generasi Z terhadap konten di media sosial mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya konten hiburan lebih banyak menjadi daya tarik utama, kini Gen Z semakin tertarik pada konten yang menawarkan keahlian, edukasi, tutorial, hingga penjelasan mengenai isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya peran media sosial sebagai ruang bagi Gen Z untuk memperoleh pengetahuan, membentuk pandangan, hingga terlibat dalam isu sosial dan politik.

Mengutip riset Generation Zeitgeist 2026 yang dirilis pada Mei 2026, Public Policy Manager Meta untuk Indonesia, Rendy Dwi Novalianto, mengatakan mayoritas Gen Z saat ini cenderung mengapresiasi konten yang menawarkan keahlian.

Dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, terlihat kecenderungan generasi tersebut beralih dari konten yang semata-mata menghibur menuju konten yang memiliki komponen edukasi. Bentuknya beragam, mulai dari tutorial, tips, hingga konten yang memberikan penjelasan mengenai isu atau topik tertentu.

Riset Generation Zeitgeist 2026 dikerjakan oleh BAMM Global atas komisi Meta. Penelitian tersebut dilakukan pada triwulan pertama 2026 dengan melibatkan 9.914 pengguna dari delapan negara, yakni Brasil, Jerman, India, Jepang, Meksiko, Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat.

Responden dalam penelitian tersebut berasal dari empat kelompok generasi, yakni Generasi Z, milenial, Generasi X, dan baby boomers. Salah satu temuan pentingnya menunjukkan bahwa 81 persen responden menilai pengetahuan atau keahlian seorang kreator sebagai atribut yang penting, bahkan ketika dibandingkan dengan popularitas kreator.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengikut tidak selalu menjadi faktor utama yang membuat sebuah konten dipercaya atau menarik perhatian. Kreator dengan keahlian spesifik atau fokus pada bidang tertentu justru memiliki peluang semakin besar untuk mendapatkan perhatian audiens.

Selain itu, media sosial juga semakin berperan sebagai pintu masuk untuk menemukan produk maupun informasi baru. Dalam riset yang sama, 85 persen Gen Z disebut menemukan produk baru melalui media sosial, sementara 58 persen melalui mesin pencarian. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebiasaan Gen Z dalam menemukan sesuatu semakin bergeser dari pola pencarian konvensional menuju konten yang mereka temui ketika menggunakan platform sosial.

Kecenderungan tersebut sebenarnya bukan fenomena yang baru muncul dalam beberapa bulan terakhir. Dalam dua tahun terakhir, terlihat semakin kuatnya ketertarikan Gen Z terhadap konten yang memberikan manfaat praktis dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, perubahan tersebut juga terlihat dari semakin pentingnya media sosial sebagai sarana mendapatkan pengetahuan. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 mengenai Gen Z Indonesia menemukan adanya hubungan antara paparan pembelajaran bahasa Inggris secara tidak sengaja melalui media sosial dengan kemampuan bahasa Inggris. Penelitian tersebut mengamati penggunaan platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok sebagai bagian dari pengalaman belajar di luar ruang kelas.

Data penggunaan media sosial di Indonesia turut memperkuat fenomena tersebut. Berdasarkan survei APJII yang dikutip Kompas.com, TikTok menjadi platform media sosial yang paling sering diakses masyarakat Indonesia pada 2026 dengan proporsi 31,8 persen, disusul Facebook 29,4 persen dan Instagram 27,7 persen.

Namun, meningkatnya ketergantungan Gen Z terhadap media sosial untuk mendapatkan informasi juga menghadirkan tantangan. Pemerintah mengingatkan generasi muda agar tidak menerima begitu saja informasi yang muncul di linimasa.

Pada Juni 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai fenomena “ilusi algoritma”. Menurutnya, algoritma personalisasi dapat membuat pengguna terus menerima potongan informasi tertentu sehingga membentuk persepsi yang belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, pergeseran minat Gen Z dari hiburan menuju konten edukatif tidak serta-merta berarti mereka meninggalkan konten hiburan. Sebaliknya, batas antara hiburan, edukasi, informasi, dan aktivitas sosial di media sosial semakin kabur.

Konten yang dianggap menarik bagi Gen Z kini cenderung bukan hanya yang mampu menghibur, tetapi juga yang memberikan sesuatu untuk dipelajari, membantu memahami persoalan, menjawab kebutuhan sehari-hari, atau menawarkan perspektif baru.

Perubahan ini sekaligus menjadi tantangan bagi kreator, media, maupun merek. Konten tidak cukup hanya dibuat agar viral, tetapi perlu memiliki nilai, relevansi, dan kredibilitas agar mampu mempertahankan perhatian audiens di tengah derasnya arus informasi media sosial.(ADR)