Baru Diluncurkan, ChatHPT Muhammadiyah Diserbu Pertanyaan soal Salat, Tembus 7,94 Miliar Token

ChatHPT Muhammadiyah Diserbu Pertanyaan soal Salat, Tembus 7,94 Miliar Token

DRADIO.ID – Antusiasme masyarakat terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi keagamaan terbilang tinggi. Hal ini terlihat dari penggunaan ChatHPT, platform berbasis AI yang dikembangkan Muhammadiyah, hanya dalam dua hari sejak diluncurkan.

Menariknya, pertanyaan yang paling banyak diajukan masyarakat bukan mengenai persoalan agama yang rumit, melainkan berkaitan dengan ibadah sehari-hari, terutama salat.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, mengungkapkan data penggunaan ChatHPT pada 5 dan 6 November 2026 menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap informasi keislaman yang mudah diakses.

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, Sabtu (7/11), Ismail menyebutkan bahwa pertanyaan mengenai salat, mulai dari tata cara, jumlah rakaat hingga sujud, menempati posisi teratas dengan 8.239 pertanyaan atau 16,2 persen dari total pertanyaan yang dianalisis.

Angka tersebut bahkan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan topik yang menempati urutan kedua.

Setelah salat, lima besar pertanyaan terbanyak masih didominasi persoalan ibadah sehari-hari. Di antaranya salat Jumat dan khutbah sebanyak 2.520 pertanyaan, zikir, doa dan selawat sebanyak 2.366 pertanyaan, wudu, taharah dan najis sebanyak 2.188 pertanyaan, serta persoalan imam, makmum dan salat berjamaah sebanyak 1.813 pertanyaan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat masih membutuhkan panduan praktis mengenai pelaksanaan ibadah, termasuk untuk memastikan tata cara beragama sesuai dengan tuntunan yang dipahami Muhammadiyah.

Selain persoalan ibadah, penggunaan teknologi dalam kehidupan modern juga mulai menjadi perhatian masyarakat.

Ismail mengungkapkan, topik muamalah digital dan kecerdasan buatan (AI) menempati posisi ketujuh dengan 1.555 pertanyaan.

Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pertanyaan mengenai nikah, talak dan rujuk sebanyak 1.543 pertanyaan, serta muamalah, riba dan bisnis sebanyak 1.524 pertanyaan.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan masyarakat tidak hanya memanfaatkan ChatHPT untuk mencari jawaban mengenai ibadah, tetapi juga membutuhkan panduan keagamaan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.

Sementara itu, sejumlah topik yang menjadi bagian dari diskursus keagamaan Muhammadiyah juga muncul dalam daftar pertanyaan populer.

Di antaranya rokok dan tembakau sebanyak 779 pertanyaan, qunut 717 pertanyaan, kalender Hijriah dan penentuan hari raya 478 pertanyaan, serta politik dan kebangsaan sebanyak 467 pertanyaan.

Ismail menjelaskan, satu pertanyaan dapat masuk ke lebih dari satu kategori. Karena itu, persentase setiap topik tidak harus berjumlah 100 persen.

Tingginya penggunaan ChatHPT juga terlihat dari beban pemrosesan sistem.

Dalam periode 5 hingga 6 November 2026, platform tersebut tercatat memproses sebanyak 7,94 miliar token.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 7,76 miliar merupakan token masukan atau input, sedangkan token keluaran atau output mencapai 179 juta.

Ismail menjelaskan, token merupakan satuan potongan kata yang dibaca dan dihasilkan oleh model kecerdasan buatan.

Dengan komposisi tersebut, untuk setiap satu token jawaban yang dihasilkan, sistem rata-rata membaca sekitar 43 token masukan.

Masukan itu mencakup instruksi, riwayat percakapan pengguna, serta hasil penelusuran terhadap berbagai dokumen keagamaan yang menjadi sumber rujukan ChatHPT.

Menurut Ismail, mekanisme tersebut memang dirancang agar jawaban tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang tersimpan dalam model AI.

ChatHPT terlebih dahulu menelusuri dan membaca sumber-sumber keagamaan, seperti Himpunan Putusan Tarjih, Fatwa Tarjih, serta Tanya Jawab Agama.

Dengan demikian, platform ini diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh informasi keagamaan berdasarkan khazanah pemikiran dan keputusan tarjih Muhammadiyah.

ChatHPT dikembangkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama LabMu untuk mendukung kebutuhan Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah.

Platform ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses berbagai referensi keagamaan di tengah perkembangan teknologi digital.

Meski demikian, Ismail mengingatkan bahwa jawaban yang dihasilkan ChatHPT hanya merupakan alat bantu untuk memahami khazanah Tarjih, bukan fatwa maupun putusan resmi Muhammadiyah.

Untuk persoalan yang membutuhkan kepastian hukum keagamaan, masyarakat tetap dianjurkan merujuk langsung pada naskah putusan dan berkonsultasi dengan Majelis Tarjih.

Ke depan, tantangan utama pengembangan ChatHPT adalah menjaga kualitas jawaban sekaligus memastikan ketahanan sistem ketika jumlah pengguna terus meningkat.

Tingginya jumlah pertanyaan dalam dua hari pertama menjadi gambaran bahwa teknologi AI mulai dimanfaatkan sebagai salah satu pintu akses masyarakat untuk memahami persoalan agama.

Namun, akurasi informasi dan kehati-hatian dalam memberikan jawaban tetap menjadi hal penting, terutama ketika berkaitan dengan persoalan hukum Islam yang membutuhkan penjelasan dan pertimbangan mendalam.(ADR)