Berita  

Menjaga Keaslian Tradisi, Teater AiR Jambi Pentaskan Abdul Muluk Utuh

Pementasan Abdul Muluk (23/05/2026)

DRADIO.ID – Teater AiR Jambi melalui dukungan Dana Indonesiana dari LPDP kembali mengangkat salah satu kebudayaan yang cukup dikenal di Jambi, yakni teater tradisional Abdul Muluk. Sebagian besar masyarakat mungkin sudah tidak asing lagi dengan kisah teater tradisional yang beberapa kali dipentaskan tersebut.

Namun, Teater AiR Jambi mencoba memosisikan diri untuk merekonstruksi kembali keberadaan kisah Abdul Muluk di tengah perkembangan modern hari ini. Ketika banyak kelompok teater memilih memotong naskah demi menyesuaikan durasi dan perhatian penonton, Teater AiR Jambi justru bersikeras memainkan Syair Abdul Muluk secara utuh. Sebuah keputusan yang mungkin dianggap nekat di era penonton serba instan seperti sekarang.

Pementasan dan program ini diberi judul besar Re:TAM atau Rekonstruksi Teater Abdul Muluk. Program tersebut menjadi yang pertama dan satu-satunya di Jambi, bahkan mungkin di Sumatra, yang mengadaptasi syair menjadi sebuah pertunjukan utuh tanpa pemotongan cerita.

Pementasan Re:TAM dilaksanakan pada malam Sabtu, (23/05/2026) di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jambi. Pertunjukan ini menjadi ruang bagi Teater AiR Jambi untuk menghadirkan kembali bentuk awal Syair Abdul Muluk kepada masyarakat luas.

Jika menilik sejarahnya, asal-usul cerita Abdul Muluk berawal dari sebuah karya sastra berjudul Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji pada abad ke-19. Raja Ali Haji dikenal sebagai ulama, sejarawan, sekaligus pujangga besar Kesultanan Riau-Lingga yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sastra Melayu.

Pada masanya, Syair Abdul Muluk kerap dibawakan oleh para pedagang dan dilantunkan di hadapan khalayak ramai untuk menarik perhatian para pembeli di wilayah Semenanjung Melayu, termasuk Palembang dan Jambi.

Seiring berkembangnya cara berpikir dan kebudayaan masyarakat, berkembang pula cara penyampaian cerita tersebut. Syair yang awalnya hanya berupa lantunan perlahan bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan yang dapat disaksikan dalam berbagai kesempatan hingga akhirnya dikenal sebagai teater tradisional Abdul Muluk.

Meski demikian, pertunjukan tersebut tetap tidak dapat dilepaskan dari akar utamanya, yakni tradisi bersyair yang menjadi fondasi lahirnya kisah Abdul Muluk itu sendiri. Dalam perkembangannya, tidak seluruh bagian syair diadaptasi ke dalam pertunjukan teater tradisional.

Hanya beberapa bagian tertentu yang dipilih dan disesuaikan untuk kebutuhan pementasan, sehingga bentuk Abdul Muluk yang disaksikan hari ini merupakan hasil adaptasi dari syair aslinya. Dalam beberapa hal, ada pula bagian yang ditambahkan untuk menyesuaikan kebutuhan panggung atau pementasan.

Teater AiR Jambi menghadirkan Re:TAM sebagai bentuk rasa penasaran terhadap akar awal teater Abdul Muluk yang berasal dari tradisi syair, lalu mencoba mengembalikannya kembali ke bentuk asalnya. Melalui program ini, Teater AiR Jambi mencoba untuk tidak mengadaptasi bebas syair yang ada, melainkan berupaya merekonstruksi bait-bait dari syair tersebut ke dalam pertunjukan yang tidak hanya menjadi adaptasi panggung semata, tetapi juga usaha menghidupkan kembali ruh dari syair aslinya.

Naskah syair yang dimainkan tidak dipotong demi menyesuaikan kebutuhan waktu ataupun durasi pementasan. Bagi Teater AiR Jambi, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap asal-usul Syair Abdul Muluk itu sendiri. Pendekatan ini menjadi pembeda dari banyak pertunjukan lain yang umumnya hanya mengambil fragmen atau bagian tertentu dari cerita.

Karena tidak adanya pemotongan naskah, durasi pementasan tentu berlangsung cukup panjang. Namun, justru di situlah letak keberanian sekaligus komitmen Teater AiR Jambi dalam menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih utuh. Mereka bahkan berani mengklaim bahwa pementasan ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di Jambi, bahkan mungkin di Sumatra, yang mengadaptasi Syair Abdul Muluk secara utuh tanpa pemotongan setelah adaptasi karya sastra La Galigo.

Durasi pertunjukan yang panjang tentu menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi pen