DRADIO.ID – Child Grooming adalah bentuk manipulasi psikologis oleh orang dewasa terhadap anak-anak untik membnagun kepercayaan dan ikatan emosional dengan tujuan eksploitasi dan pelecehan seksual. Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat jelas, manipulasi grooming sering kali tidak disadari oleh korban atau keluarganya. Namun, pihak keluarga korban bisa mengenali ciri-ciri awal dari child grooming.
Tanda pertama child grooming biasanya terlihat melalui perubahan cara anak membangun hubungan. Anak mulai menjalin hubungan dekat dengan orang dewasa yang usia jauh lebih tua dan terus-menerus berbicara tentang orang dewasa tersebut. Perubahan ini menjadi tanda awal karena anak akan menghabiskan banyak waktu bersama sosok orang dewasa yang dimaksud, bahkan mengabaikan kewajiban penting seperti sekolah ataupun bermain dengna orang tua.
Kemudian anak yang menjadi korban grooming sering menerima hadiah dari orang dewasa yang sedang dekat dengannya, dan mereka akan merahasiakannya. Sehingga anak berhenti berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari dengan orang tua dan tidak lagi menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Salah satu ciri paling mencolok adalah anak tersebut akan membuat jarak dari hubungan sosial mereka. Anak yang terkena grooming akan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di kamar dan tidak lagi meminta nasihat dari orang tua, serta cenderung berbohong tentang apa yang mereka lakukan. Hal itu dikarenakan pelaku grooming sengaja menciptakan jarak antara anak dan keluarga mereja agar pelaku bisa leluasa mengontrol korban.
Lama-kelamaan mental dari korban grooming terganggu, anak menjadi kesulitan tidur, kosentrasi menurun, dan kecemasan berlebihan akibat reaksi stress emosional terhadap trauma yang dialami. Dampak yang paling parah adalah anak dapat mengalami gangguang stress pascatrauma (PTSD). Anak terlihat sedih, menyendiri, bahkan emosi yang tidak stabil.
Child grooming dilakukan secara bertahan oleh pelaku. Prosesnya dilakukan dengan pencarian target, pelaku biasanya memilih anak yang rentan secara emosional, kepercayaan diri rendah, atau yang sedang berselisih dengan keluarga. Setelah menemukan target, pelaku mengumpulkan informasi mengenai korban, lalu memposisikan diri sebagai orang yang ‘paling mengerti’ perasaan anak, memberi hadiah dan empati kepada anak sehingga mereka merasa istimewa.
Mengenali pelaku tidaklah mudah karena mereka seringkali adalah orang yang dekat dengan keluarga atau orang dipercaya. Namun, terdapat beberapa perilaku mencurigakan yang perlu diwaspadai. Pelaku biasanya sering memberikan hadiah kepada anak dan keluarga, ketertarikan pada target, melakukan sentuhan fisik yang berlebihan, dan menawarkan bimbingan secara tiba-tiba.
Langkah orang tua yang bisa dilakukan yaitu secara pelan-pelan mendengarkan anak tanpa menunjukkan gestur marah, beritahu anak bahwa itu bukan kesalahanmereka, apresiasi keberanian bercerita mereka, dan mencari bantuan psikolog anak atau perlindungan anak. Mencegah child grooming membutuhkan edukasi, komunikasi, dan perhatian. Ajarkan anak tentang batasan pibadi, dan cerita jika ada yang dirasa tidak aman.
