Gen Alpha dan Dilema Gawai: Cerdas Teknologi, Lemah Membaca?

DRADIO.ID – Gen Alpha di saat ini tengah menghadapi krisis literasi karena penggunaan teknologi digital yang mendominasi kehidupan sehari-hari mereka. meskipun kemahiran mereka dalam menggunakan gawai lebih tinggi dibandingkan geerasi lainnya, namun nyatanya minat membaca mereka sangatlah rendah dan terus meurun. Kurang dari 11% generasi sekarang memilih bermain game, menonton YouTube, dan aktivitas media sosial dibandingkan membaca buku.

Kelompok Gen Alpha diperkirakan lahir setelah tahun 2010 hingga tahun 2025. Generasi ini tidak gagap teknologi, tetapi berdampak pada karakteristik mereka yang hanya menginginkan hal-hal instan, tidak fokus, tidak sabar, dan tidak mau belajar secara bertahap. Sejak lahir, mereka tumbuh dalam lingkungan yang dipengaruhi digital, sehingga mereka lebih tertarik dengan gawai dibandingkan buku.

Gawai dapat berperan ganda, yaitu menjadi alat pendukung atau penghambat minat baca. Saat ini, penggunaan gawai oleh anak kecil seringkali tanpa pengawasan dan bimbingan yang tepat dari orang tua. Gawai digunakan sebagai pengganti aktivitas membaca daripada literasi itu sendiri. Anak-anak Gen Alphan banyak beralih pada konten yang menghibur tanpa adanya edukasi dibandingkan dengan konten edukasi yang membosankan.

Salah satu kenapa anak-anak kurang dalam hal literasi adalah pengaruh orang tua yang tidak memberikan contoh membaca buku yang benar. Orang tua juga lebih sering menggunakan gawai, sehingga tidak membangun minat literasi kepada si kecil. Sebalilknya, Gen Alpha menganggap membaca sebagai beban atau tugas wajib sekolah.

Maka dari itu, pembentukan kebiasaan membaca seharusnya sudah dimulai sejak usia dini. Gen Alpha sangat rentan terhadap pengaruh teman sebaya dan trend sosial yang sedang berkembang di media sosial. Pembentukan awal yang mudah dan bisa dilakukan adalah menulis dan membaca di atas kertas, dua hal tersebut membantu kemampuan berpikir dan memahami apa yang anak-anak buat.

Selain itu, membuat jadwal membaca buku sangat penting dilakukan. Gen Alpha zaman sekarang sangat minim mempunyai kosakata, sehingga sulit mengekspresikan pikiran baik dalam bentuk tulisan ataupun lisan. Membaca buku yang disarankan yaitu buku cerita bergambar. Buku cerita bergambar sekaligus membuat gambaran visualisasi ekspresi bagi anak-anak.

Begitupun di gawai, alih-alih, digunakan hanya untuk bermain, alangkah baiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung membaca, seperti e-book dan perpustakaan digital. Karena Gen Alpha tidak hanya harus mengembangkan kemampuan literasi dari buku saja melainkan juga harus berasal dari gawainya.(WA)